Tautan-tautan Akses

AS

Penampilan Prima Clinton dalam Debat Peringatan bagi Partai Republik

  • Associated Press

Kandidat calon presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam debat resmi pertama Demokrat di Las Vegas, Nevada (13/10). (Reuters/Lucy Nicholson)

Kandidat calon presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam debat resmi pertama Demokrat di Las Vegas, Nevada (13/10). (Reuters/Lucy Nicholson)

Kandidat Republik nanti harus tergopoh-gopoh mengkalibrasi ulang isu-isu untuk memenangkan pemilihan umum nasional yang lebih beragam dibandingkan pada pemilihan pendahuluan.

Penampilan Hillary Rodham Clinton yang prima dalam debat pertama Partai Demokrat mengirimkan lebih dari sekedar pesan bagi pesaing-pesaingnya dalam memperebutkan pencalonan kandidat presiden. Hal itu juga merupakan peringatan bagi Partai Republik yang rusuh mengenai kekuatan Clinton dalam pemilihan umum.

Clinton mengukuhkan pergeserannya ke posisi yang lebih liberal dalam isu perdagangan, pengawasan senjata dan imigrasi, sambil tetap mempertahankan sikap sesuai para pemilih di negara-negara bagian yang ia perlukan bulan November 2016.

Ia juga mendudukkan dirinya sebagai penerus koalisi pemilih perempuan, Hispanik dan kulit hitam yang telah mengantarkan Barack Obama ke Gedung Putih, dan ia kemungkinan dapat menahan tantangan yang akan datang belakangan dari Wakil Presiden Joe Biden.

"Saya seorang progresif," ujarnya kepada para penonton televisi yang mencapai lebih dari 15 juta orang. "Saya seorang progresif yang senang menyelesaikan masalah."

Dua debat pertama para kandidat capres Republik yang kisruh memperlihatkan perpecahan mendalam di partai tersebut dan tekanan bagi para kandidat untuk menenangkan para pemilih konservatif dalam pemilihan pendahuluan.

Hal itu lagi-lagi dapat membuat kandidat yang terpilih nanti harus tergopoh-gopoh mengkalibrasi ulang isu-isu, termasuk imigrasi dan kesehatan perempuan, untuk memenangkan elektorat nasional yang lebih beragam secara ras dan ideologi dibandingkan pada pemilihan pendahuluan.

Ini persoalan yang umum untuk partai tersebut, namun berpotensi dipersulit oleh kebangkitan Donald Trump dan Ben Carson, para kandidat dengan komentar-komentar provokatif yang kelihatannya dikeluarkan hanya untuk mendongkrak posisi mereka dalam pemilihan pendahuluan.

Para kandidat yang lebih disukai oleh para anggota Republik yang lebih tradisional, seperti Jeb Bush dan Marco Rubio, berisiko diasosiasikan dengan retorika para pesaing mereka, atau tidak bisa menemukan jalan untuk mengalahkan mereka.

Para kandidat Republik hari Rabu berebut mematahkan pendapat bahwa Clinton telah memposisikan diri sebagai kekuatan pemilu. Rubio mengatakan Clinton terjebak dalam "perlombaan ke arah kiri untuk melihat siapa yang secara radikal paling liberal." Dan Bush menyebut Clinton dilindungi Demokrat dan menghindari konfrontasi atas penggunaan email pribadinya, sebuah kontroversi yang melanda kampanyenya selama berbulan-bulan.

"Ini persoalan besar yang harus dijernihkan," ujar Bush Rabu malam ketika berkampanye di New Hampshire.

Trump menambahkan, "Saya kira para Demokrat, jujur saja, melindungi dia."

Senator Bernie Sanders dan Hillary Clinton dalam debat pertama kandidat calon presiden Partai Demokrat di Las Vegas (13/10).

Senator Bernie Sanders dan Hillary Clinton dalam debat pertama kandidat calon presiden Partai Demokrat di Las Vegas (13/10).

Para pembantu Clinton mengatakan mantan menteri luar negeri itu tidak meremehkan nominasi Demokrat ini. Meski penampilannya dalam debat mungkin memperkuat posisinya sebagai kandidat terdepan, ia masih menghadapi persaingan berat dari Senator Bernie Sanders dari Vermont, calon independen yang menyebut dirinya sosialis demokrat.

Namun Clinton tidak ragu menyatakan bahwa ia mengincar para pesaing dari Partai Republik.

"Saya dapat melawan mereka dari Partai Republik, karena kita tidak mampu menjadikan seorang Republik pengganti Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat," ujarnya.

Ia menyebut Republik berkali-kali dalam debat selama dua jam itu, bahkan menempatkan partai itu bersama Iran dan Asosiasi Senapan Nasional (NRA) dalam daftar musuhnya.

David Plouffe, arsitek dua kampanye Obama, menulis di Twitter bahwa Clinton terlihat seperti kandidat yang dapat memenangkan pemilihan umum.

"Ini ujian bagi GOP (sebutan Partai Republik)," tambahnya, mempertanyakan siapa di dalam partai itu yang dapat menarik para pemilih di Ohio, Colorado, Virginia dan medan perang pemilu lainnya.

Namun Clinton bukan kandidat tanpa cacat. Posisi-posisi kebijakannya yang berubah-ubah membuatnya dituduh ikut arah mata angin. Ia orang dalam di Washington dalam siklus pemilu di mana para pemilih lebih tertarik dengan orang luar. Dan ia masih terus dihujani pertanyaan mengenai praktik-praktik email di dalam Departemen Luar Negeri.

Namun Clinton mendapat dua hadiah dalam isu email ini dari para pesaing politiknya. Ia sering menyebut sesumbar pemimpin mayoritas DPR dari Partai Republik Kevin McCarthy, bahwa kerusakan politik terhadap kampanyenya disebabkan oleh panel kongres yang mengungkap praktik-praktik emailnya, menyebutnya sebagai bukti keberpihakan.

Dan Sanders yang frustrasi menyatakan dalam debat bahwa perhatian terlalu besar terhadap isu email itu telah menumpulkan prospek bahwa Clinton akan ditantang mengenai isu itu dari dalam partainya sendiri.

Para anggota Republik mengatakan Clinton masih punya kerentanan-kerentanan yang akan melukainya dalam pemilu, termasuk pergeseran ke arah kiri dalam isu-isu besar -- versi lain masalah yang dapat dihadapi kandidat GOP setelah fokus ke kanan dalam pemilihan pendahuluan.

"Ia (Clinton) sekarang secara tegas berada di luar arus utama elektorat Amerika sebagai bagian dari upaya yang dikalkulasi untuk memuaskan basis liberal dari partainya," ujar Kevin Madden, penasihat kampanye capres 2012 dari Partai Republik, Mitt Romney.

Namun ahli-ahli strategis Demokrat berpendapat bahwa apa yang dulu dianggap sebagai kebijakan-kebijakan liberal telah semakin menjadi umum. Jajak-jajak pendapat publik mendukung penegasan dalam beberapa isu.

Mengenai imigrasi, jajak pendapat CBS News/New York Times bulan lalu menunjukkan 58 persen rakyat Amerika mengatakan bahwa orang-orang yang tinggal di AS secara ilegal seharusnya diizinkan tetap tinggal dan mendaftar sebagai warga negara, posisi yang didukung Clinton.

Terkait isu kontrol senjata, sebagian besar rakyat Amerika mendukung pemeriksaan latar belakang untuk kepemilikan senjata, yang juga merupakan usulan Clinton dalam debat. Jajak pendapat Pew Research Center bulan Juli menunjukkan bahwa 85 persen -- termasuk 87 persen responden dalam rumah-rumah tangga pemilik senjata -- mendukung pemeriksaan latar belakang yang lebih luas.

Mayoritas warga Amerika juga mendukung upaya pemerintah untuk memerangi perubahan iklim, dan mereka menyetujui pernikahan gay, posisi-posisi yang dipegang oleh Clinton dan kandidat capres Demokrat lainnya. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG