Tautan-tautan Akses

AS

Pemuda AS Khawatir soal Ekstremisme Lokal dan Asing


Dylann Roof, pria kulit putih AS mengeluarkan manifesto 'Supremasi Kulit Putih' sebelum membunuh 9 jemaat gereja kulit hitam di Charleston, South Carolina (foto: dok).

Dylann Roof, pria kulit putih AS mengeluarkan manifesto 'Supremasi Kulit Putih' sebelum membunuh 9 jemaat gereja kulit hitam di Charleston, South Carolina (foto: dok).

62 persen warga kulit hitam AS dan 55 persen warga Amerika keturunan Amerika Latin menyatakan keprihatinan tentang ancaman kekerasan oleh ekstrimis kulit putih.

Potensi tindak kekerasan oleh orang-orang yang terinspirasi ekstrimis asing dikhawatirkan oleh sebagian besar anak muda Amerika, tetapi tingkat ketakutannya sama atau lebih besar di kalangan pemuda Amerika kulit berwarna yang prihatin akan tindak kekerasan yang dilakukan oleh ekstrimis kulit putih.

Dalam jajak pendapat orang-orang antara usia 18 sampai 30 tahun, 62 persen warga kulit hitam Amerika dan 55 persen warga Amerika keturunan Amerika Latin menyatakan keprihatinan tentang ancaman kekerasan dari ekstrimis kulit putih, dibandingkan dengan hanya sepertiga dari warga kulit putih dan warga keturunan Asia.

Paling sedikit separuh warga kulit putih dan kulit hitam, warga keturunan Asia dan warga keturunan Amerika latin, mengatakan sangat prihatin tentang ancaman kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang di Amerika yang terdorong oleh ekstrimis asing.

Jajak pendapat yang bernama GenForward itu dilakukan pada bulan Juli lalu oleh Proyek Pemuda Kulit Hitam di Universitas Chicago dan Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research.

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang di luar Amerika Serikat juga menimbulkan keprihatinan. Lima puluh enam persen responden Amerika Latin sangat prihatin, dibandingkan dengan 49 persen warga kulit hitam , 40 persen warga Keturunan Asia, dan 41 persen warga kulit putih.

Survei tersebut juga mendaqpati bahwa pqra pemuda Amerika dari seluruh kelompok ras setuju bahwa beberapa kebebasan harus dikorbankan dalam usaha mencegah aksi teroris. Sebelas persen dari mereka yang disurvei mengatakan pengorbanan selalu diperlukan, dibandingkan dengan 54 persen yang mengatakan bahwa hal itu hanya kadang-kadang diperlukan. [sp]

XS
SM
MD
LG