Tautan-tautan Akses

Pemkab Poso Imbau Santoso dan Kelompoknya Menyerah

  • Yoanes Litha

Pasukan Brimob berjalan kaki di hutan Desa Pantangolemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. (VOA/Yoanes Litha)

Pasukan Brimob berjalan kaki di hutan Desa Pantangolemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. (VOA/Yoanes Litha)

Pemerintah Kabupaten Poso mengatakan siap memfasilitasi jika Santoso dan kelompoknya ingin menyerahkan diri.

Sementara upaya perburuan terhadap kelompok Santoso di Poso Sulawesi Tengah masih berlangsung hingga saat ini, pihak Satgas Operasi Tinombala 201 dan Pemerintah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, terus mengimbau mereka menyerahkan diri dan menyatakan siap memfasilitasi melalui pemerintah setempat.

Pemerintah Kabupaten Poso Sulawesi Tengah menilai operasi Tinombala 2016 di Poso telah secara signifikan mengurangi intensitas gangguan keamanan oleh kelompok teroris Santoso.

Bupati Darmin Sigilipu mengatakan operasi yang terwujud atas perhatian yang tinggi dari pemerintah pusat itu telah membuat kelompok Santoso di Poso tercerai berai sehingga jumlah dari anggota kelompok itu telah berkurang dari 41 hingga kini hanya tersisa 23.

“Jadi dengan adanya operasi Tinombala ini dari aparat Kepolisian dan dibantu dengan dari TNI, dampak positifnya itu menurut saya sangat bagus sekali. (Kelompok) itu sekarang sudah tercerai-berai, informasi terakhir sekitar dua puluhan, mereka sudah terpisah dua dan malah sudah terpisah-pisah," ujarnya kepada wartawan seusai memimpin Rapat Komunitas Intelijen Daerah Kabupaten Poso di Madale, Kecamatan Poso Kota Utara, Senin (30/5).

Darmin mengatakan pemerintahannya sangat berharap agar Santoso dan kelompoknya dapat turun gunung dan menyerahkan diri kepada aparat keamanan dalam operasi Tinombala 2016, untuk mencegah kembali jatuhnya korban dari kedua belah pihak.

Ditegaskannya, Pemerintah Kabupaten Poso siap memfasilitasi penyerahan diri tersebut. Selain imbauan, upaya lain untuk membujuk Santoso menyerahkan diri adalah membangun komunikasi dengan pihak keluarga untuk menyampaikan keinginan pemerintah itu kepada Santoso dan kelompoknya yang hingga kini masih bertahan di hutan.

"Segeralah bersama pendukungnya untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, paling tidak menyerahkan diri dengan baik-baik, lewat keluarganya, lewat jaringannya yang ada, kepada aparat baik Kepolisian maupun TNI..(yang) akan menerima dengan baik baik. Juga bisa lewat pemerintah daerah apabila mungkin takut dengan TNI, takut dengan teman teman Kepolisian," kata Darmin.

Bila terwujud, penyerahan diri Santoso dan pendukungnya itu diharapkan akan segera membuat situasi di Poso kembali kondusif untuk kegiatan pembangunan.

Pemasangan maklumat berisi imbauan kepada kelompok Santoso untuk menyerahkan diri di pasar tradisional Poso (20/5). (VOA/Yoanes Litha).

Pemasangan maklumat berisi imbauan kepada kelompok Santoso untuk menyerahkan diri di pasar tradisional Poso (20/5). (VOA/Yoanes Litha).

Aksi kekerasan dan terorisme yang terjadi di Poso oleh kelompok Santoso secara langsung berdampak pada rendahnya minat investasi di daerah itu, meskipun Poso memiliki potensi sumber daya alam yang menjanjikan baik dari segi wisata, pertanian, perkebunan, dan peternakan, kata Darmin.

“Jadi investor tidak berani masuk, padahal daerah ini sangat kaya raya. Itu bisa kita kelola secara baik untuk kemakmuran tanah Poso," tambahnya.

Secara terpisah, Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah, AKBP Hari Suprapto mengatakan upaya penyebarluasan maklumat Kapolda Sulawesi Tengah untuk meminta kelompok Santoso menyerahkan diri sudah tersebar di wilayah wilayah sasaran khususnya di Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso Pesisir Selatan, Poso Pesisir dan lembah Napu yang meliputi Kecamatan Lore Utara, Lore Timur, Lore Peore dan Lore Tengah. Maklumat itu diharapkan pada akhirnya sampai kepada Kelompok Santoso.

“Semoga pesan ini akan sampai kepada yang bersangkutan, sehingga menjadi bagian untuk dipikirkan oleh yang bersangkutan. Apapun, menyerahkan diri lebih baik dari kemungkinan menghadapi kematian atau upaya paksa," ujarnya.

Kelompok Teroris Santoso diyakini masih bertahan di hutan pegunungan yang meliputi tujuh wilayah Kecamatan di Kabupaten Poso. Perduran terhadap kelompok itu sendiri terus dilakukan dalam operasi yang melibatkan 3.000 personel gabungan TNI-Polri hingga seluruh anggota kelompok Santoso itu dapat tertangkap. [yl/ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG