Tautan-tautan Akses

Pemimpin Timur Tengah Yakin akan Dampak Positif Perbaikan Kesenjangan Gender


Dua perempuan Mesir tengah berbelanja di sebuah toko di Dubai (Foto: dok). Menurut data IMF, kesenjangan jender di Timur Tengah tiga kali lebih tinggi dibanding sebagian besar negara-negara berkembang.

Dua perempuan Mesir tengah berbelanja di sebuah toko di Dubai (Foto: dok). Menurut data IMF, kesenjangan jender di Timur Tengah tiga kali lebih tinggi dibanding sebagian besar negara-negara berkembang.

Mengizinkan lebih banyak perempuan bekerja akan mengubah secara dramatis pertumbuhan ekonomi di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Mengizinkan lebih banyak perempuan Arab bekerja, investasi pada proyek-proyek infrastruktur berskala kecil dan mengajak sektor swasta agar lebih terlibat melatih para pencari kerja baru – merupakan beberapa strategi untuk meningkatkan ekonomi negara-negara di Timur Tengah dan memberantas maraknya pengangguran di kalangan kaum muda.

Para pengambil keputusan tampaknya larut dengan masalah-masalah ekonomi yang melilit kawasan bermasalah itu, tetapi sikap itu kini mulai berubah, ujar Omar Alghanim – Wakil Ketua Konferensi Forum Ekonomi Dunia yang juga pemimpin upaya sektor swasta untuk mengatasi pengangguran.

“Ketika kita bicara dengan pejabat-pejabat pemerintah tentang hal ini, mereka menjadi lebih tertarik dan saya kira mereka mengakui signifikansi isu-isu ini," ujar Alghanim kepada Associated Press, Jumat (22/5).

“Dibandingkan lima tahun lalu, kini saya melihat begitu banyak perhatian pada isu pengangguran ini," tambahnya.

Menurut Organisasi Buruh Internasional, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara memiliki tingkat pengangguran anak muda tertinggi di dunia yaitu 29,5 persen atau naik 2 persen dibandingkan 10 tahun lalu.

Tingkat pengangguran yang sangat tinggi terutama terjadi di antara perempuan muda, sebagian karena pembatasan-pembatasan yang diberlakukan pada mereka oleh komunitas tradisional di banyak wilayah tersebut.

Alghanim mengatakan mengizinkan lebih banyak perempuan bekerja akan mengubah secara dramatis pertumbuhan ekonomi di kedua kawasan itu. Ia mengutip data yang dikeluarkan Dana Moneter Internasional IMF bahwa kesenjangan jender di Timur Tengah tiga kali lebih tinggi dibanding sebagian besar negara-negara berkembang.

Jika kesenjangan gender itu bisa diperkecil hingga sepertiga saja, maka pertumbuhan ekonomi di kawasan itu bisa mencapai US$1 trilyun atau 6 persen, tambah Alghanim – mantan bankir investasi yang kini mengepalai “Alghanim Industries”, salah satu perusahaan swasta terbesar di kawasan Teluk itu.

Alghanim tidak mengatakan bagaimana mengatasi pembatasan-pembatasan tradisi terhadap perempuan, tetapi menilai perubahan harus dilakukan secara bertahap.

Salah satu penyebab lain pengangguran di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara adalah kurangnya keahlian yang diajarkan di tingkat SMA dan universitas, dimana umumnya lebih mengedepankan pentingnya hafalan dibandingkan praktik langsung, hal-hal yang sesungguhnya lebih dibutuhkan perusahaan-perusahaan swasta.

Alghanim mengatakan sektor swasta harus lebih terlibat untuk memberi pelatihan kepada anak-anak muda ini dan mendorong munculnya pebisnis muda baru di masa depan.

Sembilan perusahaan anggota dewan pimpinan Alghanim kini ikut serta dalam program selama dua tahun yang melibatkan lebih dari 100 ribu anak muda di kawasan tersebut.

Dalam suatu acara, beberapa relawan pergi ke sekolah dan universitas untuk melangsungkan kompetisi kewirausahaan yang mengajak siswa memikirkan bagaimana mendirikan perusahaan kecil. Program ini sudah berjalan dan menurut Alghanim banyak gagasan lain seperti itu yang justru berasal dari kaum perempuan.

Alghanim mengatakan pemerintah perlu menanamkan lebih banyak investasi pada proyek-proyek infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan produktivitas. Kawasan itu hanya menghabiskan lima persen PDB-nya untuk infratruktur, dibandingkan China yang menghabiskan lebih dari 15 persen.

XS
SM
MD
LG