Tautan-tautan Akses

Pemimpin Pemberontak Muslim Filipina Serukan Ratifikasi Perjanjian Perdamaian


Ketua Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Al Haj Murad Ebrahim (tengah) menunjukkan kepada Presiden Filipina Benigno Aquino (kanan) senjata-senjata yang digunakan para pemberontak dalam proses pembicaraan damai di Sultan Kudarat, provinsi Maguindanao, FIlipina, 16 Juni 2015 (Foto: dok).

Ketua Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Al Haj Murad Ebrahim (tengah) menunjukkan kepada Presiden Filipina Benigno Aquino (kanan) senjata-senjata yang digunakan para pemberontak dalam proses pembicaraan damai di Sultan Kudarat, provinsi Maguindanao, FIlipina, 16 Juni 2015 (Foto: dok).

Pemimpin kelompok utama pemberontak Muslim yang memperjuangkan otonomi di Filipina selatan memperingatkan bahwa ISIS mungkin akan segera lebih kuat untuk menegakkan basis di daerah itu.

Murad Ebrahim, ketua Front Pembebasan Islam Moro (MILF), mengatakan kepada para wartawan di Kuala Lumpur hari Senin (7/3) kelompok ekstrimis itu dapat memanfaatkan kekecewaan kaum Muslim di daerah Mindanao, Filipina selatan, atas kegagalan lembaga legislative meratifikasi persetujuan perdamaian yang dicapai antara kelompoknya dan pemerintahan Presiden Benigno Aquino tahun 2014.

Persetujuan itu, yang diperantarai oleh Malaysia, hendak memberi kepada minoritas Muslim otonomi yang lebih besar di negara yang mayoritas Katholik itu sebagai imbalan pengakhiran pemberontakan 40 tahun yang telah menewaskan lebih dari 100.000 orang.

Ebrahim mengatakan MILF tidak akan meninggalkan perjuangan bersenjata akan tanah-air yang otonom, tetapi mengatakan kelompok itu tidak akan beralih ke kekerasan selama proses perdamaian mempunyai peluang untuk berhasil. [ab]

XS
SM
MD
LG