Tautan-tautan Akses

Pemimpin Eropa Bereaksi Keras atas Penurunan Peringkat Kredit oleh S&P

  • Lisa Bryant

Menteri Keuangan Prancis, Francois Baroin berusaha menilai positif penurunan peringkat kelayakan kredit Prancis oleh lembaga Standard & Poor's (14/1).

Menteri Keuangan Prancis, Francois Baroin berusaha menilai positif penurunan peringkat kelayakan kredit Prancis oleh lembaga Standard & Poor's (14/1).

Para pemimpin Eropa hari Sabtu mengomentari penurunan peringkat kredit sembilan negara Eropa oleh Standar & Poor's, menilai tindakan itu tidak berdasar dan tidak konsisten.

Dari Larnaka hingga Brussels, pejabat-pejabat Uni Eropa hari Sabtu membela diri, mengecilkan penurunan peringkat oleh lembaga pemeringkat kelayakan kredit Standard & Poor's (S&P), sementara bertekad mendorong terjadinya reformasi fiskal.

Dalam tindakan yang sudah diperkirakan secara luas, lembaga pemeringkat itu menurunkan peringkat lima negara Eropa, termasuk Perancis, ekonomi terbesar kedua di kawasan itu. Standard & Poor’s juga menurunkan peringkat empat negara lain yaitu Italia, Portugal, Spanyol dan Siprus.

Menteri keuangan Siprus menyebut tindakan itu "sewenang-wenang dan tidak berdasar." Pemerintah Austria juga mengecam tindakan itu. Komisaris Ekonomi dan Moneter Eropa Olli Rehn menilai penurunan peringkat itu tidak konsisten.

Politisi lain, seperti Menteri Keuangan Perancis Francois Fillon, berusaha menilai positif berita tersebut.

Dalam jumpa pers hari Sabtu, Fillon mengatakan, walau S&P menurunkan peringkat Perancis dari tiga A menjadi dua A-plus, lembaga itu juga menegaskan bahwa perekonomian Perancis kuat, beragam dan tahan. Lembaga itu mencatat, pemerintah Perancis telah memberlakukan reformasi yang diperlukan dan menerapkan strategi yang bisa diandalkan guna mengurangi utang dan defisitnya.

Fillon juga mengatakan disiplin fiskal baru, yang disepakati pemimpin Eropa bulan lalu, menunjukkan mereka proaktif dalam menangani krisis zona euro. Di Jerman, yang bertahan dengan peringkat triple-A, Kanselir Angela Merkel menyerukan para pemimpin Eropa agar bergerak cepat untuk memberlakukan perjanjian, yang dipelopori Perancis dan Jerman itu.

Tapi S&P mengecam pakta Uni Eropa itu sebagai jawaban yang tidak cukup untuk krisis zona euro - pendapat yang sama dengan analis seperti Tomasz Michaelski, dari sekolah bisnis HEC di Paris. Michaelski juga tidak percaya bahwa penurunan peringkat itu akan memaksa para pemimpin Eropa mengambil langkah-langkah yang berani dalam pertemuan akhir Januari ini.

Ia mengatakan, "Menurut saya, tidak akan ada keputusan yang menjadi solusi umum dalam KTT Eropa. Saya tidak yakin itu bisa terjadi. Ada begitu banyak kepentingan berbeda. Setiap negara harus mengatasi masalahnya sendiri."

Dalam praktik, penurunan peringkat oleh S&P itu berarti beberapa negara mungkin harus meminjam uang dengan bunga yang lebih tinggi. Dana talangan Uni Eropa juga mungkin akan terpengaruh. Tapi beberapa analis percaya karena begitu banyak peringkat negara telah diturunkan - termasuk Amerika musim panas lalu – pengaruh itu mungkin tidak berarti.

Analis lain, seperti Michaelski, berpendapat pasar mungkin telah mengantisipasi penurunan itu dan mungkin tidak bereaksi secara dramatis ketika pasar kembali buka hari Senin.

XS
SM
MD
LG