Tautan-tautan Akses

Pemimpin Afrika, Uni Eropa Bahas Masalah Migran di Malta


Pemimpin Parlemen Uni Eropa Martin Schultz (dua dari kanan) tiba di gedung parlemen Maltese untuk menyampaikan sambutan dalam KTT yang membahas masalah migrasi di Valletta, Malta (10/11).

Pemimpin Parlemen Uni Eropa Martin Schultz (dua dari kanan) tiba di gedung parlemen Maltese untuk menyampaikan sambutan dalam KTT yang membahas masalah migrasi di Valletta, Malta (10/11).

Lebih dari 3.400 orang telah meninggal dalam penyeberangan laut yang berbahaya ke Eropa tahun ini. Sedikitnya 14 orang hanyut hari Rabu (11/11) setelah sebuah kapal tenggelam dalam perjalanan dari Turki utara ke Yunani.

Lebih dari 60 pemimpin dari Afrika dan Uni Eropa mengadakan pertemuan di Malta hari Rabu dan Kamis, dalam usaha meningkatkan tanggapan mereka terhadap krisis migran dimana ratusan ribu orang mengungsi ke Eropa tahun ini.

Uni Eropa mengatakan pertemuan puncak itu akan membicarakan alasan orang meninggalkan negara asal mereka, saluran migrasi yang syah dan terorganisasi dengan lebih baik, perbaikan perlindungan bagi migran, memerangi penyelundup dan peningkatan kerjasama dengan negara-negara Afrika dalam pemulangan orang yang tidak memenuhi syarat untuk suaka.

“Apakah itu mengenai kelancaran urusan visa, pemanfaatan sebaik mungkin untuk pembangunan uang yang dikirim migran, memerangi bersama penyelundup, pertemuan puncak ini adalah mengenai pengambilan tindakan, tindakan nyata dan operasional,” kata Presiden Uni Eropa Donald Tusk hari Selasa.

Sebagai bagian dari usaha itu, Eropa menawarkan $ 1,8 milyar bantuan baru bagi negara-negara Afrika. Tetapi para pengeritik mempertanyakan tanggapan Eropa, dengan mengatakan Uni Eropa sedang berusaha mendorong orang kembali ke daerah-daerah dimana ada masalah gawat hak azasi manusia dan kurangnya kesempatan ekonomi.

Tusk mengatakan bahwa Eropa perlu menghormati kedaulatan Afrika dan memaklumi keprihatinannya.

Kira-kira 800 ribu orang telah menyeberang ke Eropa melalui laut tahun ini, hampir empat kali jumlah yang menyeberang tahun 2014, menurut Organisasi Migrasi Internasional. Italia dan Yunani adalah tempat pendaratan paling popular. Lebih banyak yang telah mendarat di Italia dari Eritrea, Nigeria, Somalia, dan Sudan daripada di tempat lain manapun,sampai separuh dari 140 ribu migran yang telah tiba disana tahun ini.

Lebih dari 3.400 orang telah meninggal dalam penyeberangan laut yang berbahaya ke Eropa tahun ini. Sedikitnya 14 orang hanyut hari Rabu (11/11) setelah sebuah kapal tenggelam dalam perjalanan dari Turki utara ke Yunani.

Kantor Pendukung Suaka Uni Eropa yang berbasis di Malta mengatakan hari Selasa system pemrosesan suakanya sedang macet karena banyaknya migran yang mencari suaka dan akan memakan waktu satu tahun untuk memroses semua permohonan yang sedang menunggu biarpun sekiranya tidak ada permohonan baru. [gp]

XS
SM
MD
LG