Tautan-tautan Akses

Pemilu Tidak Tuntas, Pemerintah Thailand Dililit Utang


Petani membawa poster dalam sebuah protes meminta pemerintahan Yingluck segera membayar skema beras mereka di pinggiran Bangkok, 6 Februari 2014

Petani membawa poster dalam sebuah protes meminta pemerintahan Yingluck segera membayar skema beras mereka di pinggiran Bangkok, 6 Februari 2014

Pemerintah sekarang ini tidak bisa mendapat pinjaman baru, dan tidak bisa membayar utang milyaran dolar kepada para petani beras sebagai bagian dari program subsidi.

Pemerintah Thailand yang sedang terjepit mendapat kekuasaan dengan janji untuk meningkatkan pendapatan para petani beras dengan membayar 40 persen lebih tinggi dari harga pasar.

Program jaminan beras itu mendorong produksi yang berlebihan dan membuat beras Thailand tidak kompetitif, menggelembungkan pengeluaran pemerintah sampai milyaran dan menciptakan timbunan beras yang menggunung.

Program itu juga penuh korupsi, kata pejabat Institut Riset Pengembangan Thailand Ammar Siamwalla. Ammar mengatakan, “Sebagian besar korupsi terjadi pada penyaluran dan penjualan beras. Korupsinya tidak tampak jelas karena angkanya tidak pernah diungkap.”

Komisi Anti-Korupsi Nasional Thailand (NACC) sedang menyelidiki peran Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dalam program subsidi beras itu yang dapat menyebabkan ia digulingkan.

Subsidi itu adalah bagian dari perluasan program yang dipopulerkan kakaknya, Mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang memberikan pinjaman murah dan layanan kesehatan bagi warga desa.

Kebijakan yang lebih baru, termasuk pemberian komputer tablet bagi anak-anak sekolah dan potongan pajak bagi pemilik mobil pertama, menunjukkan hasil beragam, kata Ammar Siamwalla.

“Layanan kesehatan mungkin merupakan kebijakan terbaik yang pernah diterapkan pemerintah Thailand. Tapi program jaminan beras yang sekarang ini, adalah kebijakan terburuk yang pernah diterapkan pemerintah,” ujar Ammar.

Para demonstran anti-pemerintah menyebut program itu sebagai kegagalan pemerintahan partai yang berkuasa dan menganjurkan para petani untuk bergabung dengan mereka dalam mendukung pembentukan dewan reformasi sementara.

Ketegangan mengenai hasil pemilu berarti para petani beras, yang belum dibayar sejak berbulan-bulan, mungkin harus menunggu lebih lama lagi, tetapi sebagian besar masih enggan untuk melawan para politisi yang mendukung mereka.

Ada tanda-tanda bahwa para petani mulai kehilangan kesabaran, memblokir jalan dan mengirim petisi kepada pemerintah Thailand dan bahkan kepada raja untuk minta bantuan, tetapi jumlah mereka sejauh ini masih kecil.

Perdana Menteri Yingluck mengatakan, jika terpilih kembali, dia akan merevisi program subsidi beras itu tetapi belum memberikan rinciannya.
XS
SM
MD
LG