Tautan-tautan Akses

Pemerintah: Perairan Asia Tenggara Bisa Jadi Somalia Baru


Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Dok))

Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Dok))

Pemerintah mengatakan lonjakan pembajakan di perairan regional dapat mengubah wilayah ini menjadi 'Somalia baru.'

Pemerintah khawatir pembajakan di jalur perkapalan yang sibuk sepanjang perbatasan maritim Indonesia dengan Filipina dapat mencapai tingkat seperti di Somalia jika keamanan tidak diperketat.

Hal itu dikemukakan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Pandjaitan hari Kamis (21/4), menyusul serentetan penculikan.

Perairan tersebut merupakan bagian dari jalur arteri perkapalan besar yang membawa kargo bernilai US$40 miliar per tahun, menurut para analis. Koridor ini digunakan oleh supertanker yang penuh muatan dari Samudera India yang tidak dapat menggunakan jalur Selat Malaka yang padat.

Sebanyak 18 orang Indonesia dan Malaysia telah ditahan dalam tiga serangan terpisah atas kapal-kapal tongkang di perairan Filipina sepanjang rute tersebut, oleh kelompok-kelompok yang diduga berhubungan dengan jaringan militan Abu Sayyaf yang terkait al-Qaida di Filipina.

Abu Sayyaf, kelompok yang dikenal akan penculikan, pemenggalan kepala, pemboman dan pemerasan, telah meminta tebusan 50 juta peso ($1,1 juta) untuk membebaskan awak Indonesia.

"Kami tidak ingin melihat wilayah ini menjadi Somalia baru," ujar Luhut Pandjaitan kepada wartawan, mengacu kepada perairan Laut Sulu di Filipina selatan, tempat penculikan terjadi.

Pembajakan dekat pesisir Somalia telah sangat menurun dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena perusahaan-perusahaan perkapalan menyewa penjaga keamanan swasta dan adanya kapal-kapal perang internasional.

Menteri-menteri luar negeri Malaysia dan Filipina akan bertemu dengan mitra Indonesia di Jakarta untuk membahas kemungkinan "patroli gabungan untuk mengamankan jalur dari Indonesia ke Filipina," ujar Luhut.

Ia tidak memberikan tanggal pertemuan tersebut, meski ia menambahkan bahwa panglima-panglima angkatan bersenjata ketiga negara juga akan bertemu di Jakarta tanggal 3 Mei.

Para pejabat keamanan dan perhubungan Indonesia bertemu hari Kamis untuk membahas peningkatan keamanan di wilayah ini.

Pusat Pelaporan Pembajakan yang berbasis di Kuala Lumpur minggu ini mengingatkan semua kapal yang berlayar di Laut Sulawesi dan timur laut negara bagian Sabah di Kalimantan, untuk menjauh dari kapal-kapal yang mencurigakan.

Untuk pertama kalinya, peningkatan gelombang serangan maritim oleh tersangka militan Islamis mengganggu perdagangan batu bara antara negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Indonesia, sebagai pengekspor batu bara thermal terbesar di dunia, memasok 70 persen kebutuhan impor batu bara Filipina.

Namun seiring meningkatnya keprihatinan keamanan, pihak-pihak berwenang di beberapa pelabuhan telah menghentikan pengiriman ke Filipina, mengganggu jadwal pengiriman beberapa produsen teratas negara ini.

"Langkah Indonesia untuk melarang pengiriman batu bara merupakan tindakan domestik mereka, hak prerogatif mereka," ujar juru bicara Persetujuan Kerjasama Regional untuk Pemberantasan Bajak Laut dan Perampokan Bersenjata terhadap Kapal-kapal di Asia (ReCAAP).

Kelompok antar-pemerintah yang berbasis di Singapura tersebut, yang bekerjasama untuk isu-isu anti-pembajakan, berhubungan dengan Malaysia dan Filipina mengenai pembajakan ini, tambahnya.

Untuk menghentikan munculnya "industri" penculikan, militer Filipina telah mendesak perusahaan-perusahaan perkapalan yang terlibat untuk tidak membayar tebusan.

Wabah pembajakan Somalia terakhir, di akhir dekade sebelumnya, merugikan industri perkapalan dunia miliaran dolar karena pembajak melumpuhkan jalur perkapalan, menculik ratusan pelaut dan menyita kapal-kapal dalam jarak lebih dari 1.600 kilometer di pesisir Somalia. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG