Tautan-tautan Akses

Pemerintah Soroti Kelompok Radikal dan Teroris di Jawa Timur

  • Petrus Riski

Menteri Koordinasi bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan. (Foto: dok)

Menteri Koordinasi bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan. (Foto: dok)

Jawa Timur merupakan daerah nomor tiga di Indonesia dengan jumlah terbanyak pengikut maupun simpatisan kelompok radikal dan teroris.

Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Mabes Polri, Komjen Pol. Djoko Mukti memberi perhatian kepada Jawa Timur, yang merupakan daerah nomor tiga di Indonesia dengan jumlah terbanyak pengikut maupun simpatisan kelompok radikal dan teroris.

Pada Rapat Peningkatan Keamanan dan Ketertiban di Surabaya, Rabu (16/3), Djoko menegaskan, Kepolisian telah menyiapkan sejumlah langkah pencegahan hingga penindakan hukum, terhadap pelaku terorisme maupun kelompok paham radikal.

“Dalam hal penanggulangan terorisme, Polri menggunakan pendekatan strategi pencegahan atau prevention, kemudian penegakan hukum dan penanganan pendanaan terorisme dan deradikalisasi mereka dengan cara dilakukan penindakan secara hukum. Strategi pencegahan yaitu dengan melakukan pendekatan dan mengajak kepada seluruh komponen masyarakat agar peduli serta berperan aktif dalam mencegah bahaya tindak pidana terorisme," ujarnya.

"Kemudian tindakan yang dilakukan adalah kontra radikalisasi melalui pendidikan tadi, kurikulum pendidikan memperkuat ideologi moderat yaitu ideologi Pancasila, ditanamkan dalam setiap pendidikan. Kemudian penilaian dan bantuan pembenahan terhadap lembaga pendidikan yang berkecenderungan menebarkan paham radikal.”

Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan sikap pemerintah Indonesia yang akan menindak tegas pelaku kejahatan narkotika. Sikap yang sama juga berlaku bagi kelompok terorisme maupun penebar paham radikalisme yang merusak bangsa, ujarnya.

Pada rapat yang dihadiri seluruh kepala daerah dan pejabat TNI-Polri se-Jawa Timur itu, Luhut mengajak semua elemen kompak melawan musuh bersama ini.

“Perintah Presiden untuk sosialisasi ke daerah-daerah, masalah bahayanya narkoba dan juga terorisme, dan juga bagaimana pemanfaatan dana desa untuk mengurangi masalah radikalisme maupun narkoba tadi. Dan juga yang ketiga, membangun kekompakan kita semua menghadapi keadaan global saat ini," ujarnya.

Peran tiga pilar yaitu Kepala Desa, Babinsa (Bintara Pembina Desa) TNI dan Babinkamtibmas Polri menjadi kunci utama pencegahan berkembangnya paham radikalisme di Jawa Timur.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, sinergi tiga pilar itu bersama masyarakat harus terus ditingkatkan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban di Jawa Timur.

Luhut juga mengajak semua elemen masyarakat peduli terhadap pencegahan dan penanganan isu global ini, termasuk keterlibatan media massa dalam menggelorakan semangat kebangsaan.

“Kami akan mengumpulkan semua pemilik TV supaya masalah kebangsaan, wawasan kebangsaan itu, di TV-nya masing-masing harus dikedepankan. Dan misalnya, lagu Indonesia Raya pagi waktu dibuka, kemudian tadi seperti lagu Padamu Negeri, sebangsa seperti itu, terus khotbah-khotbah yang menyejukkan, dan kemudian juga penjelasan-penjelasan lain yang membangun persatuan kesatuan bangsa," ujarnya. [pr/em]

XS
SM
MD
LG