Tautan-tautan Akses

Pemda DKI Tingkatkan Razia Terhadap Eksploitasi Anak


Anak-anak bermain dekat sungai yang sangat kotor di Jakarta. (Foto: Dok)

Anak-anak bermain dekat sungai yang sangat kotor di Jakarta. (Foto: Dok)

Pihak berwenang mulai menyediakan rumah singgah untuk anak-anak yang rentan di kota, selain memperketat patroli di daerah-daerah yang banyak anak-anak.

Pihak berwajib di Jakarta meningkatkan perburuan terhadap pelaku eksploitasi anak setelah sejumlah kasus, dari buruh anak sampai kekerasan dan penyerangan seksual, terungkap dalam beberapa minggu terakhir.

Puluhan ribu anak-anak diperdagangkan setiap tahun di Indonesia, dengan mayoritas dipaksa masuk ke dalam prostitusi dan kerja kasar, menurut badan kesejahteraan anak PBB, UNICEF.

Inisiatif di Jakarta ini menyusul sejumlah penahanan bulan lalu atas beberapa warga yang membius bayi dan menggunakan mereka untuk mengemis atau menyewakan mereka sebagai joki lalu lintas.

"Kasus-kasus ini merupakan peringatan bagi kita untuk memperbaiki gaya penertiban kita, untuk membuatnya lebih proaktif dan mencegah kekerasan terhadap anak," ujar juru bicara Polda Metro Jaya, Kombes Mohammad Iqbal.

Pihak berwenang mulai menyediakan rumah singgah untuk anak-anak yang rentan di kota, selain memperketat patroli di daerah-daerah yang banyak anak-anak, tambahnya.

Minggu ini, pemerintah daerah Jakarta menangguhkan aturan yang mewajibkan kendaraan membawa setidaknya tiga penumpang, dengan mengatakan hal tersebut salah satunya mendorong buruh anak.

Dalam beberapa kasus terungkap bahwa beberapa joki memberi obat penenang pada bayi.

"Banyak korban yang trauma dan stress ketika datang kepada kami, jadi kami harus memberikan konseling," ujar Neneng Heryani, direktur pusat rehabilitasi milik pemerintah yang menawarkan aktivitas akademis, olahraga dan musik untuk anak-anak.

Tempat yang terletak di Jakarta Timur itu merawat sekitar 40 anak-anak, tapi ribuan lain tetap berisiko dieksploitasi.

Para ahli menyambut upaya terbaru untuk memberantas kekerasan terhadap anak ini, tapi mereka mendesak pemerintah untuk mengambil pendekatan komprehensif dalam menangani masalah tersebut.

"Saat ini lebih seperti memadamkan api dan reaksioner," ujar Arist Merdeka Sirait, ketua Komnas Perlindungan Anak, menambahkan bahwa adanya kebutuhan mendesak untuk langkah-langkah pencegahan.

"Orang harus diedukasi. Sudut pandang harus diubah, untuk tidak lagi melihat anak sebagai sumber penghasilan, tapi mereka butuh perlindungan." [hd]

XS
SM
MD
LG