Tautan-tautan Akses

Pemerintah Berupaya Tekan Kenaikan Harga Bahan Pangan Menjelang Ramadan

  • Iris Gera

Menteri Perdagangan Mari Pangestu dalam sebuah wawancara dengan VOA di Washington baru-baru ini.

Menteri Perdagangan Mari Pangestu dalam sebuah wawancara dengan VOA di Washington baru-baru ini.

Tiga minggu menjelang bulan Ramadhan, harga berbagai bahan pangan yang dibutuhkan masyarakat mulai mengalami kenaikan terutama beras. Kenaikan tersebut diprediksi akan terus terjadi hingga hari Raya Idul Fitri.

Usai rapat tertutup sejumlah menteri di gedung Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Senin, Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu menjelaskan pemerintah sudah mulai gencar melakukan operasi pasar untuk mempersempit ruang gerak para spekulan dalam memainkan harga-harga berbagai kebutuhan pangan masyarakat.

Mari Pengestu mengatakan, pemerintah akan berupaya sekuat tenaga agar harga-harga tetap stabil. Ia menegaskan, pemerintah memprioritaskan komoditas beras agar harganya tetap stabil, karena merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan masyarakat. Meski demikian komoditas lain ditambahkan Menteri Mari Pangestu juga akan terus dipantau seperti minyak goreng, gula, cabai dan kebutuhan-kebutuhan lain.

Menteri Mari Pangestu mengatakan, “Operasi pasar (dilakukan) baik di pasar induk Cipinang maupun jika ada di daerah-daerah yang akan mengalami kenaikan di atas yang ambang atasnya sudah ada ukuran-ukurannya, itu belum sampai kesitu sih sebetulnya, kenaikannya rata-rata di bawah lima persen, ini tapi akan kita pantau terus, kalau harga yang lain sebetulnya kita tidak melihat ada kenaikan yang signifikan tapi tentunya menjelang puasa dan lebaran akan kita pantau terus, operasi pasar itu tergantung kenaikan harga ya”.

Menteri Pertanian, Suswono juga menegaskan, pemerintah akan terus berupaya agar berbagai komoditas pangan tetap tersedia dengan harga normal. Bahkan untuk komoditas beras menurut Menteri Pertanian, Suswono pemerintah akan meningkatkan produksi agar mudah didapat. Lebih lanjut ia mengatakan, “Dari angka ramalan dua surplus kita 5 juta ton tetapi dengan 5 juta ton itu masih sangat rawan karena hanya untuk kurang dari dua bulan, ya kebutuhan kita per bulan hampir 3 juta ton beras, jadi oleh karena itu akan kita optimalkan dari sisi produksi”.

Upaya untuk tidak menyulitkan ekonomi masyarakat juga dilakukan Kementerian Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. Jika sebelumnya Pertamina berencana menaikkan harga bahan bakar elpiji karena terus membengkaknya subsidi pemerintah namun ditegaskan Menteri Negara BUMN, Mustafa Abubakar kenaikan harga elpiji ditunda.

“Kita berkesimpulan bahwa waktunya belum tepat untuk melakukan penyesuaian atau kenaikan harga, oleh karenanya dipikir cara lain untuk mencari sumber untuk menutup kerugian atau kekurangcukupan dana untuk Pertamina, belum saya tahu berapa besar dananya," ujar Menter Mustafa Abubakar.

Kalangan pengamat menilai meski pemerintah melakukan berbagai upaya agar harga-harga kebutuhan pangan masyarakat stabil namun tetap belum mampu menghindari impor sehingga di sisi lain sangat merugikan petani dalam negeri karena hasil tanaman mereka semakin tersingkir. Seperti diketahui belakangan ini pasar sayur dan buah di Indonesia dikuasai impor. Selain itu pemerintah juga kembali membuka impor sapi dari Australia dan akan kembali impor beras yang kemungkinan akan didatangkan dari Vietnam dan Thailand.

XS
SM
MD
LG