Tautan-tautan Akses

Berbagai Negara Asia Rencanakan Subsidi untuk Hadapi Tingginya Inflasi

  • Dewi Sitompul

Vijay Kumar, seorang penjual sayur di pasar INA, New Delhi, India, menunggu pembeli, Senin (4/4).

Vijay Kumar, seorang penjual sayur di pasar INA, New Delhi, India, menunggu pembeli, Senin (4/4).

Pemerintah negara-negara Asia membagikan bantuan keuangan tunai dan meningkatkan subsidi BBM dan bahan pangan untuk meredakan tekanan pada konsumen.

Panen yang buruk, tekanan politik dan tingginya permintaan barang telah mengakibatkan kesulitan pada banyak anggaran belanja keluarga. Banyak yang mendapat lebih sedikit barang dan jasa karena harga-harga terus naik.

Ketika harga minyak dunia meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena ketegangan di Timur Tengah, pemerintah Thailand menetapkan harga bahan bakar solar, yang digunakan truk-truk untuk mengangkut barang dari propinsi ke kota-kota-untuk tidak melebihi 96 sen dolar per liter. Indonesia berencana menunda rencana pemotongan subsidi BBM. Dan pemerintah Filipina menyetujui subsidi BBM 11,5 juta dolar AS untuk angkutan umum.

Di Hong Kong, kota yang mengimpor hampir seluruh pasokan pangan, inflasi melonjak ke tingkat tertinggi dalam 30 bulan dalam bulan Februari. Kurangnya persediaan dan naiknya permintaan di Tiongkok, sumber dari berbagai produk makanan di Hong Kong mulai terasa dampaknya. Satu terong sekarang harganya lebih dari satu dolar di toserba.

Pemerintah setempat berjanji untuk menggunakan surplus anggaran tahun ini untuk membantu warga dengan memberikan subsidi listrik, meningkatkan tunjangan kesejahteraan dan membagikan 770 dollar bagi setiap penduduk.

Connie Bolland adalah Kepala Ekonom pada Riset Analisa Ekonomi di Hong Kong. “Ya, saya pikir subsidi-subsidi tersebut membantu meredakan tekanan terutama terhadap kelompok bawah dan kelas menengah, tetapi saya pikir jumlahnya belum cukup." ujar Bolland.

Pihak berwenang di Tiongkok, Philipina, Korea Selatan, India, Thailand dan Indonesia juga telah menaikkan suku bunga dalam dua bulan terakhir untuk mengurangi jumlah uang beredar, guna mengekang inflasi. Mereka mengatakan suku bunga bisa terus naik kalau harga-harga terus naik.

Kredit yang lebih tinggi bisa menambah kesengsaraan dunia bisnis, karena mereka harus membayar bunga yang lebih banyak. Beberapa analis mengkhawatirkan ini bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi dan menyebabkan pengangguran.

Di Hong Kong, pihak berwenang mengalami kesulitan menghambat inflasi. Bolland mengatakan nilai tukar tetap mata uang Hong Kong terhadap dolar membuat barang-barangnya lebih murah untuk pembeli Tiongkok, karena mata uang yuan yang menguat. Itu mendorong pasar saham dan properti. Di beberapa pasar properti, harga telah melampaui puncak harga tahun 1997.Lebih lanjut Bolland mengatakan,“Tentu saja dengan likuiditas keuangan di Tiongkok, walaupun mereka berusaha memperketat kredit pinjaman bank banyak uang tunai yang mengalir ke Hongkong”.

PBB memperkirakan sepuluh sampai empat puluh dua juta orang di Asia akan akan jatuh miskin atau tak bisa keluar dari kemiskinan tahun ini, karena naiknya harga-harga.

XS
SM
MD
LG