Tautan-tautan Akses

Pemerintah Australia Tingkatkan Keamanan bagi Para Pelajar Asing


Masyarakat India berdemo di depan Kedutaan Australia di New Delhi (Jan/6/10) atas isu ras yang berakibat penyerangan terhadap pelajar India di Australia.

Masyarakat India berdemo di depan Kedutaan Australia di New Delhi (Jan/6/10) atas isu ras yang berakibat penyerangan terhadap pelajar India di Australia.

Hasil penelitian Institut Kriminologi Australia mengungkapkan bahwa serangan-serangan terhadap pelajar asing di Australia -- terutama dari India – kemungkinan merupakan tindakan kriminal yang oportunis.

Laporan mengenai serangkaian serangan kekerasan terhadap pelajar asing dalam beberapa tahun terakhir di Australia, menyebutkan rasisme kemungkinan bukan merupakan motif utamanya. Namun, sejumlah pengecam mengatakan tidak mungkin kalau ras bukan faktor utama dalam beberapa serangan dan perampokan tersebut.

Institut Kriminologi Australia memeriksa catatan polisi dan mempelajari lebih dari 420.000 pelajar asing selama periode sembilan tahun. Para peneliti mengatakan ini adalah riset paling komprehensif mengenai kekerasan pada pelajar di Australia.

Survei tersebut menunjukkan pendatang dari India, Tiongkok, Korea Selatan, Malaysia dan Amerika diserang secara fisik pada tingkat yang jauh lebih rendah dibanding populasi pada umumnya. Namun, kasus perampokan terhadap pelajar India, tercatat lebih tinggi dibanding rata-rata nasional dan dua kali lebih banyak dibanding kelompok pelajar internasional lainnya.

Studi ini mempelajari serangkaian serangan terhadap remaja India di Melbourne dan Sydney antara tahun 2005 dan 2009 yang menyebabkan gesekan diplomatik antara Canberra dan New Delhi. India menuduh Australia tidak berbuat cukup untuk menindak preman rasis yang dituding menargetkan orang-orang asing.

Institut Kriminologi itu tidak mempertimbangkan ras sebagai alasan utama serangan-serangan itu. Lembaga tersebut meyakini orang India menjadi sasaran karena keterampilan bahasa Inggris mereka yang bagus, memungkinkan mereka bekerja di pompa bensin dan restoran, di mana mereka sering menggunakan transportasi umum larut malam.

Jason Payne adalah manajer riset Program Pengawas Kriminalitas Serius dan Kekerasan pada Institut Kriminologi di Canberra. "Banyak dari perampokan yang kita pelajari tampaknya terkait dengan fakta bahwa mereka bekerja di industri-industri yang beroperasi pada larut malam, yang biasanya memiliki tingkat keamanan yang rendah, dan itulah yang sering menjadi sasaran para perampok, terlepas dari motivasi rasial," ujarnya. "Ada juga peningkatan perampokan terhadap para pelajar dari latar belakang India yang terjadi di lokasi-lokasi seperti pompa bensin, toko kelontong yang buka larut malam, di taksi-taksi dan sekitar pangkalan taksi."

Namun, para pengecam berpendapat studi tersebut mengabaikan faktor prasangka rasial sebagai penyebab serangan terhadap para pelajar asing.

Jesse Marshall, presiden Persatuan Pelajar Nasional Australia, berpendapat sikap fanatik pasti merupakan faktor dalam beberapa kasus. "Ketika pelajar internasional dari India tiga kali lebih besar kemungkinannya diserang dibandingkan pelajar internasional dari Amerika di tempat transportasi umum, bagaimana mungkin mengatakan warna kulit pelajar tersebut tidak ada hubungannya dengan fakta bahwa mereka diserang", demikian komentar Marshall mengenai masalah ini.

Serangan-serangan terhadap pemuda India tidak hanya mengganggu hubungan Australia dengan India, tetapi juga merugikan reputasi industri pendidikan internasional Australia senilai 18 milyar dolar.

Sejak serangkaian serangan terhadap pelajar India, pemerintah dan polisi telah bekerja keras untuk meningkatkan keamanan bagi puluhan ribu pemuda asing yang datang ke Australia untuk belajar setiap tahun.

XS
SM
MD
LG