Tautan-tautan Akses

Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan Harga BBM

  • Iris Gera

Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil (Foto: VOA/Iris Gera)

Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil (Foto: VOA/Iris Gera)

Meskipun dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM bersubsidi) terjadi di berbagai wilayah dan berbagi sektor di tanah air, komoditas beras tetap aman.

Bertempat di gedung Kemenko Perekonomian di Jakarta, Kamis (20/11), berlangsung rapat koordinasi antisipasi dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Usai rapat, Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil kepada pers menjelaskan, transportasi laut akan terus diberdayakan untuk suplai bahan pangan.

Menko menegaskan jika sebelumnya banyak peraturan tidak maksimal, pemerintahan saat ini akan memperbaikinya.

“Bagaimana kita menjaga efektivitas logistik di pelabuhan terutama untuk barang-barang konsumsi. Misalnya cabai, bawang dan lain-lain itu sehingga ada jalur cepat. Nah itu sudah ada, kita akan meminta supaya-betul-betul dimonitor, cabai apakah harus antri di pelabuhan, prioritas cepat sehingga mengurangi biaya-biaya,” jelas Menko Sofyan Djalil.

Menko Sofyan Djalil juga menjelaskan secara khusus terkait harga cabai yang sering naik signifikan termasuk akibat dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Saat ini harga cabai di pasar sekitar Rp 100 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp 40 ribu per kilogram.

“Tentang cabai yang selalu menjadi faktor yang luar biasa, ini sebenarnya ada persoalan yang sangat struktural yaitu policy barangkali yang tidak tepat, masa negara agraris yang begitu besar cabaipun terpaksa kita impor. Kita coba misalnya apakah teknologi sprinkle, apakah teknologi rumah kaca dan kita akan coba beberapa. Dan kalau itu berhasil kemudian dilakukan secara massal, negara ini tidak ada alasan untuk kita tidak bisa mengatasi masalah tersebut, barangkali selama ini lebih banyak kita bicarakan daripada kita bergerak,” lanjutnya.

Khusus untuk kehidupan nelayan, Menko, Sofyan Djalil menambahkan, kenaikan harga BBM bersubsidi akan mempermudah para nelayan mendapatkan solar saat melaut sehingga stok ikan tersedia di pasar dan harga terjangkau masyarakat.

“Berkaitan erat dengan disparitas harga yang tinggi antara harga keekonomian dengan harga subsidi, akibatnya nelayan kalah bersaing dengan pihak-pihak yang mengumpulkan minyak kemudian menjual ketengah laut, dengan disparitas sudah berkurang, tindakan hukum dilakukan sekarang jauh lebih mudah nelayan mendapatkan BBM, tetapi yang terpenting Pertamina menjamin tersedianya BBM, solar terutama untuk nelayan di daerah-daerah yang terpencil,” tegas Menko Sofyan Djalil.

Kenaikan harga komoditas pangan pasca kenaikan harga BBM bersubsidi diyakini Direktur Perum Bulog, Sutarto Aliomoeso tidak terjadi pada beras. Bulog ditegaskannya akan terus berupaya mengantisipasi agar harga beras stabil.

Sesuai prediksi kebutuhan beras nasional tahun ini sebesar 35 juta ton, hingga Desember 2014 Bulog masih menyimpan cadangan beras sebesar 2 juta ton.

“Kita pokoknya operasi pasar, makanya yang penting masyarakat jangan menjadi resah, barang ada, ini kan kadang-kadang karena dibuat isu-isu begitu terus masyarakat menjadi resah, Bulog siap melayani diseluruh derah, di seluruh wilayah kita siapkan, sampai kapanpun karena stok kita cukup besar, kalau diatas 1,5 juta (ton) itu sangat cukup,” kata Sutarto Alomoeso.

XS
SM
MD
LG