Tautan-tautan Akses

Pemerintah Akan Keluarkan Laporan Penyelidikan Kecelakaan AirAsia


Bangkai pesawat AirAsia QZ8501 diangkat ke kapal di Pelabuhan Kumai, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 11 Januari 2015.

Bangkai pesawat AirAsia QZ8501 diangkat ke kapal di Pelabuhan Kumai, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 11 Januari 2015.

Laporan tersebut diharapkan memberikan penjelasan resmi mengapa pesawat dengan penerbangan QZ8501 itu hilang dari radar.

Pemerintah Indonesia hari Selasa siang (1/12) dijadwalkan mengumumkan hasil-hasil penyelidikan atas kecelakaan pesawat jet penumpang AirAsia Indonesia, penjelasan resmi pertama kepada para keluarga 162 orang yang tewas dalam bencana tahun lalu itu.

Pesawat Airbus A320 itu jatuh di Laut Jawa tanggal 28 Desember 2014, kurang dari separuh penerbangan dua jam dari Surabaya ke Singapura.

Kecelakaan tersebut merupakan salah satu rangkaian bencana penerbangan di Indonesia, dimana pertumbuhan perjalanan udara yang pesat telah menyebabkan bandar-bandar udara sangat padat, dan meningkatkan kekhawatiran akan keselamatan.

Laporan tersebut diharapkan memberikan penjelasan resmi mengapa pesawat dengan penerbangan QZ8501 itu hilang dari radar, setelah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menolak menerbitkan laporan awalnya.

Di antara fakta-fakta yang dikeluarkan sejauh ini, pilot pertama yang berkebangsaan Perancis mengontrol pesawat sebelum kecelakaan dan ada suara peringatan dari kokpit yang menandakan jet itu kehilangan kemampuan mengangkat.

Laporan pemerintah diperkirakan akan fokus pada apakah sistem pesawat rusak dan bagaimana respon dari para pilot.

Sumber-sumber yang memahami isu ini mengatakan kepada Reuters tahun ini bahwa para penyelidik memeriksa catatan-catatan pemeliharaan bagian utama sistem pengendalian pesawat.

Menurut laporan-laporan, salah satu pilot berupaya mematikan komputer dengan menarik rem sirkuit, prosedur yang biasanya tidak diizinkan dalam penerbangan.

Dua sumber mengatakan kepada Reuters bahwa kapten tampaknya meninggalkan tempat duduknya untuk melakukan hal tersebut. Namun para penyelidik pemerintah bulan Februari mengatakan mereka tidak menemukan bukti mengenai hal tersebut atau bahwa tombol 'power' dengan sengaja dimatikan.

Para ahli mengatakan matinya apa yang disebut Flight Augmentation Computers tidak akan secara langsung menyebabkan pesawat jatuh, namun tanpa itu para pilot harus bergantung pada keahlian terbang manual yang seringkali melampaui kemampuan dalam darurat penerbangan tiba-tiba.

Laporan pemerintah tidak dirancang untuk menunjuk pihak yang salah namun untuk memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk mencegah kecelakaan-kecelakaan di masa yang akan datang.

Kepala Eksekutif AirAsia Tony Fernandes telah bersumpah akan mendukung penyelidikan dan mengatakan Agustus lalu bahwa grup perusahaannya telah memerintahkan kajian atas sistem-sistem menyusul kecelakaan tersebut.

Indonesia telah menghadapi dua kecelakaan pesawat besar dalam setahun terakhir, termasuk jatuhnya pesawat kargo militer di Medan bulan Juli, menewaskan lebih dari 140 orang di dalamnya dan di darat, serta memicu Angkatan Udara untuk mengkaji armadanya yang menua.

Penanganan investigasi ini mungkin akan dinilai oleh para regulator di Uni Eropa, yang melarang sebagian besar maskapai penerbangan Indonesia untuk terbang ke sana karena kekhawatiran tentang aturan keselamatan. Indonesia AirAsia dan Garuda Indonesia tidak termasuk dalam daftar hitam UE. [hd]

XS
SM
MD
LG