Tautan-tautan Akses

Pemenang Nobel Ekonomi Temukan Solusi Pengangguran Jangka Panjang


Profesor Ekonomi dari Northwestern University, Dale Mortensen, menjadi salah satu pemenang penghargaan Nobel untuk bidang Ekonomi tahun ini.
Profesor Ekonomi dari Northwestern University, Dale Mortensen, menjadi salah satu pemenang penghargaan Nobel untuk bidang Ekonomi tahun ini.

Riset pemenang Nobel, Dale Mortensen, dapat membantu pengambil kebijakan mencegah pengangguran jangka panjang di masa depan.

Sewaktu mendapat kabar via telepon mengenai perolehan Nobel dari Royal Swedish Academy of Science pada bulan Oktober, Profesor Ekonomi dari Northwestern University Dale Mortensen sedang berada jauh dari rumahnya di Chicago, mengajar di Denmark, dan ia mengakku sangat terkejut menerima kabar tersebut.

Bagi Mortensen, sebagai seorang pelopor dalam penelitian mengenai pencarian kerja dan teori pengangguran, Hadiah Nobel menjadi puncak dari karir yang panjang mempelajari pasaran tenaga kerja.

"Biasanya di dalam studi ekonomi, Anda mendapat hadiah ini untuk model yang Anda bangun, untuk membangun struktur bagi pemecahan masalah," jelas Mortensen.

Masalah yang Mortensen ingin pecahkan adalah mengapa banyak tenaga kerja menganggur, di saat banyak lowongan kerja yang tersedia.

"Yang saya coba lakukan adalah mempelajari proses penempatan pekerja pada pekerjaan tertentu, terutama melalui proses yang mengidentifikasi, di mana akan terjadi distorsi dan friksi yang bisa ditanggulangi," ujarnya.

Frank Wallace, seorang warga Amerika yang menganggur berdemonstrasi di Philadelphia menuntut perpanjangan tunjangan pengangguran, 22 November 2010. Kongres AS menyetujui perpanjangan tunjangan pengangguran tersebut bulan Desember ini.
Frank Wallace, seorang warga Amerika yang menganggur berdemonstrasi di Philadelphia menuntut perpanjangan tunjangan pengangguran, 22 November 2010. Kongres AS menyetujui perpanjangan tunjangan pengangguran tersebut bulan Desember ini.

Riset yang mengantarkannya pada Hadiah Nobel tersebut menghasilkan sebuah model matematika yang kompleks, yang membantu ekonom memahami berapa lama waktu yang dibutuhkan pekerja untuk mendapatkan pekerjaan, dan bagi perusahaan untuk mendapatkan pekerja.

Temuan riset ini, tambah Mortensen, dapat memandu kebijakan ekonomi.

"Penerapan ide-ide tersebut dalam pasar tenaga kerja cukup jelas, karena membuktikan bahwa perlu waktu untuk menemukan pekerjaan, dan perlu waktu untuk mengisi lowongan pekerjaan," ujar Mortensen. "Jadi, yang kita lihat adalah lowongan yang belum diisi dan pencari pekerjaan yang belum menemukan pekerjaan, berusaha untuk saling menemukan satu sama lain. Dan, proses tersebut penting untuk memahami bagaimana pekerja ditempatkan membutuhkan waktu untuk menemukan pekerjaan dan juga untuk mengisi perkerjaan tersebut," kata Mortensen. "Jadi apa yang kita lihat adalah lowongan pekerjaan yang tidak terisi dan para pengangguran saling mencari satu sama lain. Proses ini penting untuk memahami berapa ongkosnya bagi perekonomian."

Tingkat pengangguran nasional di Amerika Serikat saat ini berada di atas sembilan persen. Dua juta warga Amerika yang menganggur harus mengandalkan tunjangan pengangguran, yang jangka waktunya baru diperpanjang oleh Kongres.

Mortensen berkata bahwa seseorang tidak perlu menjadi jenius dalam bidang matematika utnuk mengerti implikasi tingkat pengangguran tinggi yang berkelanjutan.

"Tapi, sampai kita dapat mengembalikan tingkat kepercayaan dalam penanaman modal, kita akan melihat krisis berlanjut dalam jangka panjang," katanya. "Dan, banyak aspek dari krisis yang berkaitan, dan bahkan disebabkan oleh krisis keuangan."

Menrut Mortensen, penerapan modelnya untuk memahami disconnect antara perusahaan dan pencari kerja, dapat membantu pengambil kebijakan untuk menghindari pengangguran yang tinggi di masa depan.

"Pengusaha misalnya harus berinvestasi dalam penciptaan lapangan kerja. Dan, itu berarti mereka harus memandang lebih jauh ke depan, dan menanamkan bahwa investasi dalam bentuk penciptaan pekerjaan akan menguntungkan."

Ini bukan tahun pertama Mortensen dan rekan-rekannya dalam riset ini telah dipertimbangkan untuk Nobel. Tapi menurutnya, trend ekonomi global saat ini telah mempengaruhi para juri Nobel lebih memperhatikan risetnya.

"Kami sudah dipertimbangkan oleh panitia Nobel selama lima hingga enam tahun belakangan ini," kata Mortensen.

Selain medali emas yang ia terima, Mortensen menerima uang tunai sebanyak 1,5 juta dolar. Ia telah menerima penghargaan ini di Stockholm, Swedia, 10 Desember lalu.

Selain Mortensen, penerima Nobel Ekonomi lainnya tahun ini adalah Peter Diamond dari Massachusetts Institute of Technology, dan Christopher PIssarides, ekonom dari London School of Economics.

XS
SM
MD
LG