Tautan-tautan Akses

Pemerintah Pastikan 16 WNI Yang Ditangkap di Turki Bukan Rombongan Wisatawan


Menlu Retno Marsudi di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 12 Maret 2015 (Foto: VOA/Andylala).

Menlu Retno Marsudi di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 12 Maret 2015 (Foto: VOA/Andylala).

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Marsudi di Istana Negara Jakarta, Jumat (13/3), memastikan 16 WNI yang ditahan oleh otoritas Turki, hendak menyeberang ke Suriah, wilayah basis utama Negara Islam Irak Suriah (ISIS).

Pemerintah menyatakan 16 warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap otoritas Turki saat mencoba menyeberang ke Suriah berbeda dengan 16 orang rombongan tur wisata yang hilang pada 24 Februari 2015 lalu.

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Marsudi di Istana Negara Jakarta, Jumat (13/3), memastikan 16 WNI yang ditahan oleh otoritas Turki, hendak menyeberang ke Suriah, wilayah basis utama Negara Islam Irak Suriah (ISIS).

Retno tidak menjelaskan asal mereka, namun diketahui dari 16 WNI itu satu laki-laki dewasa, empat perempuan dewasa, selebihnya anak-anak laki-laki dan perempuan.

"Dari komunikasi yang kita lakukan kemarin, confirm bahwa 16 WNI yang ditahan tersebut bukan merupakan merupakan 16 yang ikut di dalam rombongan tour yang kemudian menghilang dari rombongan. Kita masih terus melakukan komunikasi, koordinasi dan pertemuan dengan otoritas Turki terkait masalah 16 orang WNI yang ada di otoritas Turki," kata Menlu Retno Lestari Marsudi.

Retno menambahkan, kementerian luar negeri mengirimkan satu tim untuk terus meningkatkan kerja sama dengan otoritas Turki. "Begitu kabar kita terima, langsung komunikasi dengan kedutaan kita di Ankara dan konsulat jenderal di Istambul untuk melakukan pendalaman," lanjut Retno.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementrian Luar Negeri Muhamad Iqbal menjelaskan, berangkat ke Turki dengan independen, tidak menggunakan biro perjalanan. Menurut Iqbal, pihaknya belum mengetahui pasti 16 WNI yang akan masuk Suriah akan bergabung dengan ISIS, atau bukan.

"Tapi saya belum bisa sampai kepada judgement apakah mereka akan bergabung kepada ISIS atau tidak. Karena kita masih melakukan koordinasi dengan otoritas di Turki untuk mendeteksi lebih lanjut. Pihak di turki juga sudah melakukan upaya-upaya deteksi melalui semua cctv bandara di seluruh Turki dan di perbatasan," jelas Muhamad Iqbal.

Iqbal lebih lanjut menerangkan tidak mudah untuk mendeteksi orang-orang yang melintas di perbatasan Turki-Suriah. "Tapi temen-temen jangan lupa, untuk mendeteksi orang ke suriah itu tidak mudah. Karena perbatasan Turki dengan Suriah itu panjangnya 900 kilo meter. Dan di situ banyak sekali pos-pos ada yang di jaga aparat dan ada yang tidak dijaga aparat," lanjutnya.

Sementara itu Tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto memastikan, ada penambahan jumlah relawan dari Indonesia untuk bergabung dengan ISIS hingga mencapai lebih kurang 500 orang.

"Kalau data itu kan terus menerus bertambah ya. Semula (dari Indonesia) ada 300 orang di Suriah. 56 orang di Mosul. Trus kemarin ada 1 keluarga berangkat dari Lamongan. Trus dari Sulawesi berdatangan juga kesana. Lalu ditambah dari Jawa Timur lagi. Dan sejumlah wilayah di Bima. Nah sekarang karena mereka gelap, jumlahnya plus minus ya. Kurang lebih 500 orang kita lah," kata Wawan Purwanto.

Untuk memastikan keberadaan 16 orang WNI tersebut, Wawan meminta pemerintah Indonesia terus mencarinya untuk memastikan apakah mereka bergabung dengan ISIS atau hanya tersesat.

16 WNI hilang di Turki saat pergi menggunakan paket wisata Smailing Tour. Seluruh rombongan yang mencapai 25 orang tiba pada 24 Febuari 2015 di Bandara Internasional Ataturk dengan pesawat Turkish Airline TK-67.

Saat tiba di Istambul, 16 orang ini langsung memisahkan diri. Mereka mengaku ingin bertemu dengan keluarganya di Turki. Hingga saat rombongan wisata itu pulang pada 3 Maret 2015, 16 orang ini tidak jelas keberadaannya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG