Tautan-tautan Akses

Pembunuhan 2 Perempuan Indonesia Kejutkan Hong Kong


Rurik George Caton Jutting (tengah) dikawal polisi dalam kendaraan menuju pengadilan di Hong Kong (3/11).

Rurik George Caton Jutting (tengah) dikawal polisi dalam kendaraan menuju pengadilan di Hong Kong (3/11).

Keluarga kedua perempuan tersebut dan polisi Hong Kong serta pihak berwenang Indonesia mencoba mengurai horor tersebut dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Di dalam gedung apartemen mewah bernuansa logam abu-abu yang menjulang di jantung Hong Kong, polisi menemukan kejahatan yang telah mengejutkan kota yang bangga dengan reputasinya akan keselamatan dan ketertiban.

Jenazah dua perempuan Indonesia ditemukan di sana, satu ditikam di leher dan bokong sementara yang lainnya ditemukan dalam sebuah koper, dengan sayatan di leher.

Polisi segera menahan bankir Inggris Rurik George Caton Jutting, 29, yang telah mengarahkan mereka ke apartemennya, tempat jenazah dan sebuah pisau ditemukan.

Sekarang, para keluarga kedua perempuan tersebut dan polisi Hong Kong serta pihak berwenang Indonesia mencoba mengurai horor tersebut dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Juru bicara Konsulat Indonesia Sam Aryadi mengukuhkan Selasa (4/11) bahwa salah satu korban adalah Seneng Mujiasih, 29, yang datang dari kota Muna di Sulawesi dengan izin sebagai pekerja rumah tangga. Ia membiarkan visanya habis, menurut Sam, dan akhirnya "nongkrong" di distrik lampu merah Wan Chai.

Di sana ia memakai nama palsu yang terdengar seperti nama Filipina, Jesse Lorena Ruri, menurut seorang pejabat lain. Foto yang dipasang di sebuah halaman Facebook untuk menghormatinya menunjukkan ia tersenyum lebar, memakai gaun koktil perak berkilauan, duduk di atas kursi bar.

Polisi Hong Kong mengidentifikasi korban lainnya sebagai Sumarti Ningsih, 25, yang ada di Hong Kong dengan visa turis yang habis masa berlakunya Senin.

Berbicara pada wartawan Selasa dari desa Gandrungmangu di Cilacap, Jawa Tengah, ayah Sumarti, Ahmad Kaliman, menuntut keadilan atas kejahatan itu.

"Pelakunya harus dihukum mati, atau setidaknya mendapat hukuman seumur hidup," ujar pria berusia 58 tahun itu.

Ia mengetahui profesi tersangka pembunuhan tersebut dan menambahkan, "Ia juga harus membayar uang untuk membantu membiayai putra Ningsih yang berusia 5 tahun."

Dua perempuan tersebut sepertinya merupakan bagian dari ribuan pekerja migran yang berupaya mendapatkan pendapatan yang lebih baik di pusat keuangan yang kaya itu. Sekitar setengah dari 319.325 pekerja domestik migran di Hong Kong adalah orang Indonesia dan hampir semuanya perempuan, menurut Amnesty International.

Jutting, yang tampak berantakan dan linglung saat tampil di pengadilan Senin, baru-baru ini telah berhenti dari pekerjaan yang telah ia miliki sejak 2013 dalam bidang keuangan dan perdagangan ekuitas terstruktur untuk Bank of America Merrill Lynch di Hong Kong.

Ia dijadwalkan membantu polisi Jumat untuk melakukan rekonstruksi kejahatan di dalam apartemen lantai 31 di gedung J Residence tower.

Pada 15 Oktober, Jutting mengunggah foto di Facebook yang memperlihatkan balkon gelas dan baja tempat jenazah Ningsih ditemukan dalam koper. Semua teman yang "menyukai" foto tersebut adalah perempuan-perempuan Asia, sebagian besar dengan nama Filipina.

Foto-foto lain di halaman Facebooknya merupakan foto-foto protes pro-demokrasi yang telah memenuhi jalanan Hong Kong sejak akhir September. Pada 30 September Jutting bahkan memasang foto dengan pita kuning tanda gerakan pro-demokrasi tersebut.

Jutting lulus dari Cambridge University, tempat ia merupakan sekretaris dari masyarakat sejarah universitas tersebut.

Ia belum memberikan pembelaan atas dua tuduhan pembunuhan terhadapnya.

Konsulat Indonesia sedang mengurus dua jenazah perempuan tersebut untuk dikirimkan ke kampung halaman mereka. (AP)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG