Tautan-tautan Akses

Pembom Bunuh Diri Sasar Pusat Perekrutan Polisi di Tikrit, 45 Tewas

  • Edward Yeranian
  • Febriamy Hutapea

Warga setempat mengangkut jenazah para korban tewas akibat bom bunuh diri di pos polisi Tikrit, sekitar 150 km sebelah utara Baghdad, Selasa 18 Januari 2011.

Warga setempat mengangkut jenazah para korban tewas akibat bom bunuh diri di pos polisi Tikrit, sekitar 150 km sebelah utara Baghdad, Selasa 18 Januari 2011.

Puluhan calon polisi, kebanyakan anak muda tewas atau terluka karena ledakan di depan pos polisi di utara Baghdad, Selasa.

Seorang penyerang meledakkan dirinya hari Selasa di tengah kerumunan calon-calon polisi di kota Tikrit, Utara Baghdad. Ledakan berdarah mengakibatkan 45 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Serangan itu agaknya merupakan strategi baru pemberontak yang menargetkan pasukan keamanan Irak.

Serangan bunuh diri di Tikrit itu menyerupai banyak serangan lain atas pasukan keamanan Irak dalam beberapa bulan belakangan ini. Puluhan calon polisi, kebanyakan anak muda tewas atau terluka karena ledakan di depan pos polisi di kota kelahiran Saddam Hussein.

TV Baghdad melaporkan bahwa ledakan itu mengakibatkan banyak korban dan banyak orang harus dilarikan ke rumah sakit di beberapa kota lain. Masjid-masjid lokal juga mengumumkan permintaan sumbangan darah melalui pengeras suara.

Seorang anak muda yang terluka, mukanya dipenuhi darah dan debu, menggambarkan ledakan tersebut dari tempat tidurnya di rumah sakit: Ia merasakan ledakan yang sangat keras di sekelilingnya.

Peter Harling, analis dari Crisis Group di Damaskus, Suriah.

Peter Harling, analis dari Crisis Group di Damaskus, Suriah.

Peter Harling dari Crisis Group di Damaskus mengatakan, para pemberontak mencoba mengubah peta politik atau dinamika di Irak dengan menyerang pasukan keamanan negara itu, tapi tidak cukup berhasil.

Harling mengatakan, “Menurut saya apa yang masih dilakukan pemberontak dipusatkan pada dua jenis sasaran, petugas keamaan pada satu sisi, dan di sisi lain kita melihat serangkaian serangan atas kepentingan Arab dan Kurdi dan bekas markas Laskar Mahdi di Baghdad. Saya pikir berbagai serangan ini dirancang untuk mengubah perbandingan kekuatan di Irak. Tetapi mereka gagal melakukan hal itu. Ini cukup menarik walaupun tahun 2010 ditandai dengan perundingan yang berlarut-larut atas pembentukan pemerintah dalam delapan bulan, berbagai serangan ini seluruhnya gagal.”

Harling mengatakan pemberontak perlu mengubah strategi dan tidak lagi meledakkan bom supaya bisa mendapat kekuatan politik. Menurutnya, “Sejauh ini mereka hanya berhasil dalam menyebabkan pertumpahan darah, tapi belum memberikan dampak yang nyata dalam konteks dinamika konflik ini, dan saya pikir pemberontak telah kacau-balau.”

Beberapa pejabat Irak menuduh al-Qaida bertanggungjawab atas serangan itu. Namun, Peter Harling mengatakan belum jelas siapa dibalik serangan bom itu, atau di balik pemberontak Irak, tapi mereka menggunakan teknik-teknik yang biasa dipakai al-Qaida, khususnya di Afganistan. Apa yang tersisa dalam pemberontakan itu, katanya, hanya kelompok-kelompok kecil, yang tidak didukung oleh rakyat secara berarti.

XS
SM
MD
LG