Tautan-tautan Akses

Pembersihan oleh Erdogan Ancam Masa Depan Masyarakat Sekuler Turki


Militer Turki menahan tentara yang diduga terlibat dalam kudeta baru-baru ini, di Marmaris, Turki (25/7). (Reuters/Kenan Gurbuz)

Militer Turki menahan tentara yang diduga terlibat dalam kudeta baru-baru ini, di Marmaris, Turki (25/7). (Reuters/Kenan Gurbuz)

Di balik rasa persatuan melawan kudeta ada ketakutan yang mendalam, terutama karena Turki memasuki periode darurat.

Para pengamat melihat kudeta yang gagal di Turki dan pembersihan yang dilakukan Presiden Recep Tayyip Erdogan sesusahnya sebagai bagiand ari pertikaian antara Islamis dengan visi untuk memungkinkan peran agama yang lebih besar dalam kehidupan publik.

Untuk yang lainnya, visi itu berlawanan dengan masyarakat sekuler yang dibentuk tahun 1920an oleh Mustafa Kemal Ataturk, pendiri republik Turki yang modern.

Ketika ribuan anggota oposisi dan pendukung partai yang berkusa memenuhi Lapangan Taksim di Istanbul untuk mengecam upaya kudeta yang gagal melawan Erdogan, mereka menggambarkan kekuatan rakyat yang menghentikan kudeta.

Persatuan itu merupakan hal yang langka di negara yang sangat terbelah dan memiliki sejarah panjang kudeta itu. Suasana hati sebagian besar orang senang; oposisi dan pendukung Erdogan merayakan satu hal yang mereka sepakati: kudeta akan membawa lebih banyak ketidakstabilan dan masalah, bukannya penyelesaian.

Namun di balik rasa persatuan itu ada ketakutan yang mendalam, terutama karena Turki memasuki periode darurat.

​"Kami khawatir tentu saja dengan status darurat ini karena pada titik tertentu kebebasan kami akan dibatasi," ujar Sermin Dalgic, pendukung oposisi yang menghadiri demonstrasi.

"Kami ingin negara di mana kami bisa bebas mengeluarkan pendapat dan mengadakan demonstrasi. Itu jenis negara yang kami inginkan," ujarnya.

Dalam jangka pendek dan panjang, tujuan itu tampaknya menjadi pertanyaan.

Melda Onur, mantan anggota legislatif dari partai oposisi utama, Partai Rakyat Republik yang sekuler, tidak yakin semuanya akan begitu mudah bagi Erdogan. Ia mengatakan kekuatan rakyat yang menghentikan kudeta akan menghentikan Turki menjadi negara Islam.

Tapi ia khawatir. "Pemerintah sedang membersihkan elemen-elemen Islam radikal, namun di lain pihak, pemerintah bertahan tidak menyerahkan kekuasaan pada mereka yang menginginkan republik demokratis yang sekuler. Kita tidak tahu apakah ini pembersihan, pemberantasan atau sesuatu yang dilakukan hanya untuk mempertahankan posisi," ujarnya.

Onur, seperti yang lainnya, mengatakan sekularisme mengakar kuat di Turki, dan ia yakin posisi negara itu di antara dunia Muslim di Timur dan Eropa di Barat adalah jaminan bahwa rakyat Turki tidak akan pernah menerima bentuk negara Islam. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG