Tautan-tautan Akses

Pemberontak Serang Balik Pasukan Gaddafi antara Bin Jawad dan Ras Lanuf

  • Elizabeth Arrot
  • Rauf Prasodjo
  • Made Yoni

Seorang pejuang pemberontak di Ras Lanuf, berlari menuju sebuah mobil dengan senapannya, Minggu (6/3).

Seorang pejuang pemberontak di Ras Lanuf, berlari menuju sebuah mobil dengan senapannya, Minggu (6/3).

Pemberontak Libya menyerang balik pasukan pemerintah antara Bin Jawad dan Ras Lanuf, kota-kota yang menandai beralihnya medan perang selama beberapa hari terakhir.

Para saksi mata mengatakan sejumlah pesawat tempur menghantam posisi-posisi di sekitar pelabuhan minyak Ras Lanuf pada hari Senin. Penduduk tampak meninggalkan kota ini sebelumnya, karena memperkirakan adanya serangan dari pasukan pendukung Gaddafi setelah serangan hari Minggu ke kota-kota yang dikuasai pemberontak.

Seorang pejabat pemberontak di Benghazi pada hari Senin mengaku pasukan pemberontak terpaksa mundur dari Bin Jawad sehari sebelumnya. Namun Khaled Sayeh, seorang juru bicara penghubung militer dan sipil memberi keterangan yang sangat merisaukan kalau terbukti benar.

Sayeh mengatakan pasukan pendukung Gaddafi menggunakan perempuan dan anak-anak di kota itu sebagai tameng untuk melindungi diri mereka, memaksa para pemberontak untuk mundur.

Menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup merupakan kejahatan perang, dan tuduhan Sayeh bukan yang pertama dalam konflik ini.

Pemimpin Libya Moammar Gadhafi berulangkali menuduh Al-Qaida mengobarkan pergolakan dan memberi warga Libya narkoba untuk menciptakan kekacauan. Dalam wawancara, Senin, dengan jaringan televisi France 24, Gaddafi juga menuduh media-media barat mengabaikan apa yang dikatakannya sebagai dukungan luas yang dimiliki pemerintahnya.

Klaimnya tersebut disangsikan mengingat separuh dari Libya Timur kini berada di tangan pemberontak. Tapi, mungkin klaim tersebut tidak lebih kredibel dibandingkan angka padahari Senin yang dipaparkan bekas Menteri Dalam Negeri Abdel Fattah Younis yang membelot ke kubu pemberontak. Ia mengatakan 90 persen Libya berada di bawah kekuasaan oposisi.

Setiap orang tampaknya punya komentar mengenai apa yang dinyatakan pihak lain. Aimen Areibi, seorang pengawas lalu lintas udara di bandara Benghazi yang kini ditutup, mengatakan penutupan internet oleh pemerintah dan pembatasan layanan telepon tidak membantu.

Ketika ada kabar yang dibuat oleh pemerintah lewat televisi, mereka mengatakan telah mengambil alih Tobruk dan menerjunkan banyak tentara untuk merebutnya kembali. Masalahnya adalah kita tidak bisa menanyai orang di Tobruk mengenai situasi di sana untuk mengetahui apa yang terjadi.

Di antara semua kebingungan, yang nampak jelas adalah semacam kebuntuan dalam pertempuran di mana tak satupun dari kedua pihak bertempur habis-habisan dengan pihak lainnya.

Serangan udara pemerintah berkali-kali tidak mengenai sasaran jelas. Sementara itu, pasukan pemberontak belum memindahkan sebagian besar persenjataan yang mereka rampas ke medan perang.

Tapi, bukan berarti pertempuran ini tidak berdarah, karena sejumlah ambulan tampak dilarikan dengan cepat ke luar Ras Lanouf.

Mungkin itulah alasan mengapa Perdana Menteri Jadallah Azouz Al Talhi pada hari Senin meminta kepada para pemimpin di wilayah timur yang dikuasai pemberontak untuk berdialog dengan pemerintah. Ia mengharapkan akan adanya komunikasi terbuka untuk mengakhiri kekerasan.

XS
SM
MD
LG