Tautan-tautan Akses

AS

Pembela Tersangka Pembom Boston Berusaha Hindarkan Hukuman Mati


Sketsa gambar tersangka pengebom maraton Boston, Dzhokhar Tsarnaev (kedua dari kiri) didampingi oleh para pengacaranya di pengadilan Boston (foto: dok).

Sketsa gambar tersangka pengebom maraton Boston, Dzhokhar Tsarnaev (kedua dari kiri) didampingi oleh para pengacaranya di pengadilan Boston (foto: dok).

Pengacara tersangka pengebom maraton Boston Dzhokhar Tsarnaev berusaha mempengaruhi juri agar menjatuhkan hukuman seumur hidup, dan bukan hukuman mati bagi kliennya.

Pengacara tersangka pengebom maraton Boston Dzhokhar Tsarnaev hari Senin (11/5) menyimpulkan upaya mereka untuk mempengaruhi juri agar menjatuhkan hukuman seumur hidup, dan bukannya hukuman mati bagi kliennya.

Saksi terakhir dari 44 saksi yang dipanggil oleh pengacaranya dalam kesaksian selama delapan hari adalah seorang biarawati Katolik Helen Prejean. Ia adalah penentang hukuman mati terkenal yang kisah pertemuannya dengan para napi yang dijatuhi hukuman mati di penjara-penjara Amerika dituangkan dalam film tahun 1995, Dead Man Walking.

Prejean bersaksi bahwa ia bertemu dengan Tsarnaev lima kali dalam dua bulan terakhir. Ia mengutip Tsarnaev yang mengatakan “tidak seorangpun berhak untuk menderita seperti para korban” dan mengatakan ia mendengar “kepedihan” dalam suara Tsarnaev ketika ia mengatakan menyesalkan bom kembar dekat garis finish pada lomba maraton tahun 2013 di Boston yang menewaskan tiga orang dan mencederai 264 lainnya termasuk 17 orang yang kehilangan anggota tubuhnya.

Pengacara Tsarnaev tidak meminta kesaksian Tsarnaev usia 21 tahun, seorang imigran Chechnya, sebaliknya mereka menggunakan kesaksian yang lainnya untuk menyampaikan pembelaan bahwa ia tidak banyak berperan sebagaimana kakaknya Tamerlan Tsarnaev.

Dalam upaya menghindari hukuman mati bagi Dzhokhar, pengacaranya mengklaim Tamerlan menjadi radikal untuk membalas perang-perang yang dilancarkan Amerika di negara-negara Muslim dan mempengaruhi adiknya itu untuk melancarkan serangan bom bersamanya.

Kakak-beradik itu juga menembak mati seorang polisi ketika mereka berupaya melarikan diri dari Boston. Dzhokhar secara tidak sengaja menggilas Tamerlan dengan mobil yang dikemudikannya sewaktu dikejar polis. Ia kemudian ditangkap ketika bersembunyi di sebuah perahu motor yang diparkir di halaman belakang sebuah rumah di pinggiran kota Boston.

Juri kini akan menentukan nasib terpidana Dzhokhar Tsarnaev atas ke-30 tuduhan yang dikenakan padanya termasuk 17 tuduhan yang bisa dikenai hukuman mati.

Jaksa dan pengacara dijadwalkan untuk menyampaikan pendapat akhir mereka hari Rabu sebelum juri mulai mempertimbangkan keputusan mereka.

XS
SM
MD
LG