Tautan-tautan Akses

Pembakaran Sekolah Timbulkan Kekhawatiran di Kashmir India


Siswa Muslim Kashmir, Hilal Ahmed Hajam (kiri) dan Nasir Ahmed Mir memeriksa kerusakan akibat kebakaran SMA Negeri di Goripora, luar kota Srinagar, Kashmir yang dikontrol India, 1 November 2016. (AP Photo/Dar Yasin)

Siswa Muslim Kashmir, Hilal Ahmed Hajam (kiri) dan Nasir Ahmed Mir memeriksa kerusakan akibat kebakaran SMA Negeri di Goripora, luar kota Srinagar, Kashmir yang dikontrol India, 1 November 2016. (AP Photo/Dar Yasin)

Lebih dari dua lusin sekolah telah dibakar di Kashmir India oleh orang-orang tak dikenal dalam dua bulan terakhir, sementara bidang pendidikan menjadi sasaran baru dalam kerusuhan yang mencekam kawasan itu sejak Juli lalu.

Inilah untuk pertama kalinya sekolah-sekolah menjadi sasaran sebanyak ini di kawasan lembah di Himalaya yang rusuh, di mana militan Islamis biasanya menyerang militer atau polisi. Sebagian besar sekolah masih tutup selama hampir empat bulan karena seruan penutupan oleh pimpinan separatis di negara bagian itu.

Setelah tiga sekolah dibakar akhir pekan lalu, Pengadilan Tinggi Jammu dan Kashmir meminta pemerintah negara bagian agar memastikan perlindungan terhadap sekolah-sekolah itu, “mengungkap musuh-musuh pendidikan” dan menangani mereka dengan “tangan besi.”

Tetapi tampaknya tidak jelas siapa di balik serangkaian penghancuran gedung-gedung sekolah yang terjadi di 10 distrik di sana. Sebagian sekolah hancur sama sekali, sementara yang lainnya hangus sebagian.

Polisi menyatakan telah melakukan sejumlah penangkapan, tetapi tidak mengumumkan siapa pelaku pembakaran.

Para pengamat menyatakan pembakaran sekolah-sekolah itu semakin sering terjadi setelah pemerintah negara bagian berupaya membuka kembali sekolah-sekolah, dan mengumumkan bahwa ujian akan dilaksanakan sesuai jadwal meskipun sekolah telah lama ditutup.

Sekolah-sekolah pada awalnya ditutup karena larangan keluar rumah yang diberlakukan setelah pembunuhan seorang pemimpin militan setempat, Burhan Wani, memicu gelombang kekerasan protes anti-India yang menewaskan 90 orang. Para pemimpin separatis kemudian memasukkan lembaga-lembaga pendidikan dalam instruksi pemogokan mingguan yang mereka keluarkan.

Para pejabat tinggi negara bagian mengecam kelompok separatis yang mereka sebut ingin membesarkan satu generasi pemuda tak berpendidikan yang dapat digunakan untuk melempari pasukan keamanan dengan batu. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG