Tautan-tautan Akses

Pemain-Pemain Baru Siap Saingi Uber, Lyft


Sebuah kendaraan Uber terlihat di New York (foto: dok).

Sebuah kendaraan Uber terlihat di New York (foto: dok).

Layanan pengantaran yang dipesan lewat aplikasi smartphone, Uber, saat ini menggeser posisi taksi di kota-kota besar di Amerika. Tetapi bila konsumen memesan pada jam-jam sibuk atau saat perayaan-perayaan besar, mereka harus siap membayar ekstra mengingat Uber dan layanan sejenis memberlakukan tarif dinamis alias tarif premium.

"Sulit sekali mendapat tumpangan," kata seorang warga San Francisco menuturkan pengalamannya saat pergantian tahun lalu. Dan begitu ia mengakses app Uber di smartphonenya, ia pun terkejut. Ia menambahkan, "Uber menaikkan tarifnya sekitar sepuluh kali lipat"

Tarif premium ini di uber disebut 'surge pricing', sementara di layanan sejenis Lyft diberi nama 'prime time'. Tarif premium seperti ini bertujuan memberi insentif bagi pengemudi.

Kata Mika Sanfilippo yang menjadi supir paruh waktu bagi Lyft prime time, "Bila kami tahu tarif prime time berlaku dengan persentase lebih tinggi, kami biasanya memutuskan untuk menyetir pada jam-jam tersebut."

Pemberlakuan tarif dinamis seperti ini sering dikeluhkan penumpang, karena kadang tarif yang dibayar justru jauh lebih mahal dibandingkan tarif taksi argo formal. Merespon keluhan penumpang soal tarif dinamis, sejumlah layanan baru pun bermunculan yang sama sekali menghilangkan tarif premium. Layanan Split di ibukota AS Washington, D.C. misalnya, yang baru-baru ini diluncurkan.

Dan Winston, Direktur Strategi Split menjelaskan, "Sekali panggil $2 (sekitar Rp 26 ribu), lalu $1 (Rp 13 ribu) per mil. Kami tidak ada tarif dinamis"

Sesuai namanya ("split" artinya membelah atau membagi rata), layanan ini memungkinkan lebih dari satu penumpang yang tidak saling mengenal memesan mobil yang sama, bila mereka kebetulan sedang menuju arah yang sama.

"Mungkin sudah ada orang di mobil yang Anda panggil begitu Anda masuk," kata Ario Keshani, CEO Split, "Atau justru ada orang yang masih tinggal di mobil saat Anda keluar. Prinsipnya kami ingin membuat perjalanan lebih efisien"

Sementara di negara bagian California (tempat Uber diluncurkan tahun 2009 dan Lyft pada 2013), sekarang ada Opoli. Selain tidak memberlakukan tarif dinamis, Opoli bahkan memberlakukan tarif berdasarkan lelang. Dengan demikian calon penumpang memilih sendiri tarifnya. Opoli didirikan oleh wiraswastawan, Rattan Joea.

"Anda pilih pengemudi, pilih mobil, dan pilih harga. Intinya Anda tentukan sendiri berapa yang Anda bayar dan jarak yang perlu ditempuh pengemudi, " kata Joea.

Bermunculannya layanan alternatif yang menyaingi pemain mapan seperti Uber dan Lyft ini sudah menjadi perkembangan wajar, menurut analis teknologi David Aaronson.

Menurut Aaronson, "Uber mengguncang industri taksi dan mengurainya. Lalu ada layanan sejenis seperti Lyft dan ZipCar. Kemudian muncul Opoli memanfaatkan celah baru"

Aaronson menilai, layanan yang memberi calon penumpang lebih banyak keleluasaan ini membuat industri pengantaran lewat smartphone menjadi lebih terurai lagi.

XS
SM
MD
LG