Tautan-tautan Akses

Pekerja Indonesia Berlebaran di Malaysia

  • Munarsih Sahana

Dubes RI untuk Malaysia, Herman Prayitno berdialog dengan para TKI yang mudik melalui pelabuhan laut Port Klang di luar kota Kuala Lumpur (Foto: VOA/Munarsih).

Dubes RI untuk Malaysia, Herman Prayitno berdialog dengan para TKI yang mudik melalui pelabuhan laut Port Klang di luar kota Kuala Lumpur (Foto: VOA/Munarsih).

Banyak tenaga kerja migran asal Indonesia (TKI) di Malaysia tidak pulang berlebaran di tanah air karena berbagai alasan yang berbeda. Ada yang ingin berhemat, ada yang sibuk dan ada juga yang menjadi korban penipuan.

Herawati asal Aceh saat ini bekerja pada toko kue di pasar Chow Kit, mendapat upah 50 Ringgit per hari. Sementara suaminya berjualan buah-buahan di pasar yang sama. Dua anaknya masing-masing berumur delapan tahun dan 3,5 tahun ditinggal di Aceh bersama ibunya. Lebaran tahun ini Herawati dan suami tidak pulang kampong karena ingin berhemat.

"Kali ini tidak pulang karena tidak ada duit 'lah. Cari duit 'lah untuk anak-anak biar cukup. Kami gaji 50 (ringgit) per hari, cukuplah untuk bahan sekolah dan makan anak-anak. Disini kumpulin duit dulu lah untuk modal disana (Aceh), kalau kerja disini bisa nabung 1300 (ringgit) per bulan," kata Herawati.

Umi asal Blitar sudah beberapa tahun bekerja pada sebuah salon kecantikan di Kuala Lumpur. Tahun ini terpaksa tidak bisa merayakan Lebaran di Blitar karena ia sudah pulang lebih awal berhubung majikannya hamil dan segera melahirkan.

“Baru saja saya balik, belum satu bulan saya balik harus kesini. Tokey (majikan) sedang mengandung besar jadi tak bolehlah saya Lebaran di Indonesia. Ngirim duit ke Indonesia setiap bulan selalu, satu untuk anak saya kedua untuk saya sendiri (menabung) untuk masa tua," cerita Umi.

Sementara Pak Mahfour yang sudah 33 tahun bekerja dibidang jasa di Malaysia, kini sudah mendapatkan status penduduk tetap. Ia kurang tertarik pulang ke Indonesia karena orangtuanya sudah meninggal sedangkan anak dan istrinya juga tinggal di Malaysia. Namun, bersama keluarga ia pulang ke Indonesia tiap dua tahun sekali.

"Sebetulnya kami punya program tiap dua tahun pulang bersama anak istri. Biar anak turun saya disini tahu saudara-saudaranya disana. Ketertarikan untuk pulang ke Indonesia itu sudah berkurang karena orangtua sudah tidak ada lagi," kata Mahfour.

Malaysia enetapkan peraturan yang mengharuskan pekerja migran pulang ke negaranya setelah 10 tahun bekerja. Tetapi Radian Soerandi, ayah tiga anak, memutuskan untuk terus bekerja dan mengurus surat ijin melalui program pemutihan tahun 2011 yang diurus agen Malaysia. Sudah setahun lebih dan membayar mahal, ijin tidak kunjung selesai. Akibatnya , seperti nasib ribuan TKI lainnya, Radian terpaksa tidak bisa pulang merayakan Lebaran bersama istri dan anaknya di Padang karena tidak memiliki dokumen. Bahkan bepergian di Malaysia pun ia takut ditangkap polisi.

"Kalau (urusan surat-surat) ini gagal, saya kerasi orang itu karena tidak ada jalan lain. Saya ada paspor, dan saya bayar tiga-ribu setengah. Kalau Kedutaan (Indonesia) tidak apa," kata Radian Soeradi.

Menurut Agus Triyanto, Atase Ketenagakerjaan KBRI di Kuala Lumpur, Lebaran tahun ini jumlah TKI pulang mudik ke kampong secara umum mengalami penurunan.

"Terjadi penurunan jumlah baik yang legal maupun illegal. Fenomena ini terjadi kemungkinan karena mereka sudah preparation jauh hari. Tahun ini banyak yang pulang tidak lagi membawa barang tetapi lebih memilih mambawa uang. Sehingga perputaran uang yang mereka bawa terjadi di Indonesia," kata Agus Triyanto.
XS
SM
MD
LG