Tautan-tautan Akses

Pejabat PBB: Tantangan bagi Pertumbuhan, Pembangunan ASEAN 


Menlu China Liu Zhenmin (kanan) dan Menlu Khusus Singapura untuk PBB Chee Wee Kiong (kiri) memberikan penjelasan bagi media di Singapura (28/4).

Menlu China Liu Zhenmin (kanan) dan Menlu Khusus Singapura untuk PBB Chee Wee Kiong (kiri) memberikan penjelasan bagi media di Singapura (28/4).

Shamshad Akhtar, sekretaris eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia-Pasifik (UNESCAP), mengatakan ASEAN yang sebagian besar bergantung pada pertumbuhan ekspor, telah terimbas perlambatan perdagangan di luar negeri.

PBB, walaupun optimis atas prospek 10 negara Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), mengatakan kawasan ini menghadapi beberapa tantangan mendesak, termasuk mengurangi ketergantungan pada perekonomian China, di mana pertumbuhan melambat.

Badan dunia itu, dalam survei Ekonomi dan Sosial untuk Asia Pasifik yang terbaru, meramalkan ASEAN akan mengalami pertumbuhan lebih lambat pada tahun 2015, mendekati 4,3 persen, turun dari 5,0 persen selama periode 2011-2013.

Shamshad Akhtar, wakil sekretaris jenderal PBB dan sekretaris eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia-Pasifik (UNESCAP), mengatakan cetak biru untuk integrasi ekonomi di kawasan itu ditantang oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.

Menurut Akhtar, kawasan ASEAN, yang sebagian besar bergantung pada pertumbuhan ekspor, telah terimbas perlambatan perdagangan di luar negeri.

"Bergantung pada China yang tadinya menjadi berkat telah menjadi tantangan bagi ASEAN. Dan apa yang terjadi di China, berdampak pada Singapura, Malaysia, dan Thailand, yang lebih bergantung pada perdagangan dengan RRC (Republik Rakyat China.) Jadi jelas mereka perlu bergerak menuju diversifikasi," kata Akhtar.

Pendorong utama pertumbuhan regional pada tahun terakhir adalah ekspansi ekonomi China, yang menyumbang sekitar 40 persen dari total produk domestik bruto negara berkembang Asia-Pasifik dan telah melampaui Amerika Serikat sebagai mitra dagang terbesar untuk Asia-Pasifik.

Pertumbuhan yang moderat di China, seiring dengan pertumbuhan ekonomi global yang lemah secara keseluruhan, telah memukul perekonomian yang bergantung pada komoditas seperti Indonesia dan Malaysia. [as/uh]

XS
SM
MD
LG