Tautan-tautan Akses

Pejabat Korea Selatan Berharap Wabah MERS Berakhir Sebelum Juli


Sepasang warga Korea Selatan mengenakan masker sebagai tindak pencegahan terhadap virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) ketika berjalan-jalan di Myeongdong, salah satu lokasi perbelanjaan utama di Seoul, 15 Juni 2015.

Sepasang warga Korea Selatan mengenakan masker sebagai tindak pencegahan terhadap virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) ketika berjalan-jalan di Myeongdong, salah satu lokasi perbelanjaan utama di Seoul, 15 Juni 2015.

Para pejabat kesehatan Korea Selatan melaporkan lima kasus MERS baru hari Senin (15/6), sehingga jumlah total yang terinfeksi mencapai 150 orang, tetapi mengatakan angka infeksi baru menurun.

Pihak berwenang mengatakan jika langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk membendung penyebaran virus telah lebih baik dan efektif, wabah MERS di Korea Selatan bisa berakhir dalam 14 hari, ketika masa inkubasi saat ini berakhir.

Kwon Jun-Wook, yang memimpin satuan tugas MERS di Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan, mengatakan mereka sedang memantau 12 rumah sakit di mana virus MERS ditemukan dan tidak melihat infeksi baru dari luar kelompok yang sudah dikarantina.

“Sekarang semuanya berada di bawah kendali dan jika tidak ada kelompok baru yang terinfeksi, diperkirakan penyebaran virus akan berakhir 27 Juni mendatang," kata Kwon.

Asal muasal virus

MERS pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012. Penyakit ini merupakan penyakit pernapasan yang awalnya menunjukkan gejala flu namun meningkat menjadi pneumonia dan gagal ginjal. Belum ada obat atau vaksin yang diketahui dapat mengobati penyakit ini.

Di Korea Selatan, 16 orang telah meninggal akibat terinfeksi virus ini. Namun Kementerian Kesehatan mengatakan tingkat kematian tetap sebesar 10 persen, jauh lebih rendah dari tingkat kematian sebesar 35 persen pada wabah di masa lalu.

Sebuah misi gabungan Organisasi Kesehatan Dunia dan Kementerian Kesehatan Korea mengatakan virus "sepertinya tidak berubah untuk membuat dirinya lebih menular."

Sebaliknya, faktor-faktor lain seperti bangsal darurat dan kamar rumah sakit yang terlalu padat, dan kurangnya kendali untuk membatasi anggota keluarga membatasi akses ke bangsal darurat dan kamar rumah sakit mungkin berperan besar dalam penyebaran virus MERS.​

Petugas kesehatan Korea Selatan dari pusat kesehatan masyarakat yang mengenakan masker sebagai tindak pencegahan terhadap virus MERS, Middle East Respiratory Syndrome, menunggu memeriksa suhu pasien dan membersihkan tangan mereka di lokasi tes layanan masyakarat.

Petugas kesehatan Korea Selatan dari pusat kesehatan masyarakat yang mengenakan masker sebagai tindak pencegahan terhadap virus MERS, Middle East Respiratory Syndrome, menunggu memeriksa suhu pasien dan membersihkan tangan mereka di lokasi tes layanan masyakarat.



Pasien penyebar virus

Para pejabat kesehatan juga mengungkapkan lonjakan penderita yang terpapar virus MERS terjadi karena tiga pasien penyebar virus. Sebelumnya, hanya pasien pertama di negara itu, pria 68 tahun yang terinfeksi virus selama perjalanan ke Timur Tengah, yang disebut sebagai penyebar virus. Ia bertanggung jawab atas penularan virus kepada banyak orang ketika mendatangi empat rumah sakit untuk mencari pengobatan sebelum didiagnosis dengan benar.

Kim Woo Joo, seorang profesor penyakit menular di Universitas Korea, mengatakan bahwa pasien pertama, pasien ke-14 dan pasien ke-16 semuanya mengidap pneumonia dan kemungkinan membawa jumlah virus yang sangat tinggi sehingga memungkinkan mereka menularkan virus di rumah sakit yang ramai. Salah satu "super spreader" atau penyebar virus tinggal di ruang gawat darurat Rumah Sakit Samsung di Seoul selama tiga hari, sebelum didiagnosis terinfeksi MERS. Mereka bertanggung jawab atas 88 persen dari 150 kasus MERS di Korea.

Profesor Kim mengatakan rumah sakit telah memperbaiki masalah ini dan segera mengisolasi siapapun yang menunjukkan gejala seperti flu atau telah melakukan kontak dengan pasien MERS. Sejak kebijakan baru tersebut diterapkan, infeksi telah menurun.​

"Fokus saat ini adalah mencegah terjadinya 'super spreader' baru," katanya.

Pemerintah Korea Selatan pada awalnya dikritik karena lambat merespon ancaman kesehatan masyarakat tersebut dan tidak segera mengungkapkan nama-nama rumah sakit di mana kasus MERS ditemukan. Sejak itu, pemerintah mengambil langkah-langkah keras untuk mencegah penyebaran virus mematikan tersebut dan memberikan pemberitahuan update harian tentang status wabah MERS.

Rumah Sakit Samsung di Seoul itu hampir ditutup hari Minggu, membatalkan sebagian besar operasi, menutup ruang gawat darurat, tidak menerima pasien baru dan membatasi akses kerabat pasien yang masih dirawat di rumah sakit.

Kantor Perdana Menteri Korea Selatan mengumumkan bahwa mereka mengirimkan tim inspeksi ke Rumah Sakit Samsung untuk meninjau secara langsung mengapa fasilitas medis gagal mengontrol penyebaran virus dan mengawasi bagaimana pencegahan infeksi lebih lanjut di sana.

Petugas kesehatan Korea Selatan mensterilisasi bioskop mengenakan pakaian pengaman di Seoul, 12 Juni 2015.

Petugas kesehatan Korea Selatan mensterilisasi bioskop mengenakan pakaian pengaman di Seoul, 12 Juni 2015.

Presiden Korea Selatan batalkan kunjungan ke AS

Presiden Park Geun-hye membatalkan kunjungan kenegaraan ke Washington untuk menangani wabah MERS di negaranya. Pada hari Minggu (14/6), ia mengunjungi Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul di mana pasien MERS dirawat.

Lebih dari 5.000 orang yang mungkin telah terpapar virus mematikan tersebut telah dikarantina atau diperintahkan untuk tinggal di rumah.

Pemerintah berusaha meyakinkan publik bahwa resiko infeksi di masyarakat rendah. Virus tersebut hanya ditemukan di rumah sakit saja.

Jumlah orang-orang yang menghadiri acara publik dan pusat perbelanjaan masih rendah, tapi industri dalam negeri ini bisa dengan cepat bangkit kembali setelah ancaman kesehatan masyarakat berakhir.

Tapi industri pariwisata Korea Selatan bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Kim Chulmin dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata mengatakan pariwisata telah menurun lebih dari 20 persen dibandingkan bulan lalu. Ia mengatakan dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pariwisata Korea Selatan bisa pulih setelah wabah berakhir.

"Katakanlah ada penurunan sebesar 20 persen wisatawan dari Juni, Juli dan Agustus, yaitu sejumlah 820.000 wisatawan yang tidak datang ke Korea dan $900 juta pendapatan yang hilang," kata Kim.

Meanwhile, South Korea's Education Ministry announced 2,464 schools reopened, while 440 schools remained closed. The World Health Organization had earlier recommended reopening the nearly 3,000 schools that had been closed because there is no evidence virus transmission is linked to these facilities.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Korea Selatan mengumumkan 2.464 sekolah dibuka kembali, sementara 440 sekolah tetap ditutup. Organisasi Kesehatan Dunia sebelumnya merekomendasikan hampir 3.000 sekolah yang ditutup kembali dibuka, karena tidak ada bukti penularan virus di sekolah-sekolah tersebut.

Kontribusi Produser VOA di Seoul, Youmi Kim.

XS
SM
MD
LG