Tautan-tautan Akses

Pejabat Amerika Mulai Ambil Sidik Jari Keluarga Pengungsi di Nauru


ARSIP – Dalam foto yang diambil tanggal 21 September 2001 ini, para pria bercukur, menyikat gigi, dan bersiap-siap untuk menghadapi hari di kamp pengungsi di Pulau Nauru (foto: AP Photo/Rick Rycroft, Arsip)

ARSIP – Dalam foto yang diambil tanggal 21 September 2001 ini, para pria bercukur, menyikat gigi, dan bersiap-siap untuk menghadapi hari di kamp pengungsi di Pulau Nauru (foto: AP Photo/Rick Rycroft, Arsip)

Petugas-petugas keamanan Amerika telah mulai mengambil sidik jari para pengungsi yang ditampung di kepulauan Pasifik, sebuah tahap terakhir untuk mengevaluasi siapa yang akan memulai hidup baru di Amerika.

Para pencari suaka di Nauru hari Senin (20/3) mengatakan petugas-petugas keamanan Amerika telah mulai mengambil sidik jari para pengungsi yang ditampung di kepulauan Pasifik, tahap terakhir untuk mengevaluasi siapa yang akan memulai hidup baru di Amerika.

Petugas-petugas Departemen Keamanan Dalam Negeri mengambil rincian biometrik pengungsi di Nauru, termasuk sidik jari, tinggi dan berat badan, demikian menurut dokumen yang disirkulasikan diantara para pencari suaka dan dikirim ke Associated Press oleh seorang pengungi di pulau itu, yang demi alasan keamanan tidak ingin nama keluarganya dipublikasikan.

Pengungsi itu juga mengatakan petugas-petugas Amerika mulai menjadwalkan pertemuan dengan keluarga para pencari suaka di Nauru itu mulai hari Senin.

Belum ada indikasi yang diberikan berapa lama proses pemeriksaan keamanan itu akan berlangsung.

Departemen Keamanan Dalam Negeri belum menanggapi permohonan tanggapan yang disampaikan Associated Press. Departemen Imigrasi dan Perlindungan Perbatasan Australia juga menolak berkomentar.

Presiden Donald Trump telah menunjukkan keenganan untuk menyetujui perjanjian yang dibuat pemerintah Obama sebelumnya guna menerima hingga 1.250 pengungsi yang ditolak masuk ke Australia, tetapi mengatakan para pengungsi itu haru “diperiksa dengan sangat seksama”. Hanya ada sedikit rincian tentang maksud pernyataan itu.

Australia membayar Nauru dan Papua New Guinea untuk menampung lebih dari 2.000 pencari suaka – yang terutama berasal dari Iran, Afghanistan dan Sri Lanka – dalam kondisi yang dikecam keras oleh kelompok-kelompok HAM.

Seorang pejabat imigrasi Australia tiga minggu lalu mengatakan pada sebuah komite Senat Australia bahwa petugas-petugas Departemen Keamanan Dalam Negeri siap untuk memulai proses pemeriksaan terhadap para pengungsi di pulau-pulau tersebut segera setelah diberi ijin.

Pejabat-pejabat Departemen Luar Negeri Amerika juga sudah melakukan pemeriksaan tahap pertama dari proses dua tahap yang ada, yaitu wawancara pendahuluan untuk memastikan bahwa calon yang akan ditampung adalah benar-benar pengungsi.

Trump telah menggambarkan perjanjian dengan Australia itu sebagai hal yang “bodoh” dan meningkatkan keprihatinan soal apakah perjanjian itu akan diwujudkan atau tidak. [em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG