Tautan-tautan Akses

Pedagang Pasar Tradisional Solo Keluhkan Produk Impor

  • Yudha Satriawan

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di pasar tradisional di Solo. (VOA/Yudha Satriawan)

Para pedagang di pasar tradisional Pasar Nongko Solo mengeluhkan maraknya produk impor kepada Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan membuka selubung kain yang menutupi papan nama Pasar Tradisional di Solo, Pasar Nongko, tanda diresmikannya pasar tersebut, Selasa (16/4).

Gita kemudian berkeliling melihat para pedagang pasar yang sedang menunggu pembeli. Seorang pedagang buah segar, Joko, mengeluh pada Menteri tersebut karena maraknya produk buah impor. Joko mengatakan selama ini barang dagangannya mayoritas produk petani lokal di Solo dan sekitarnya.

“Harga buah dari luar negeri atau impor ini harganya masih tinggi, Pak Menteri. Ya memang karena pasokannya agak lambat ini. Mohon Pak Menteri memperhatikan nasib petani lokal di Indonesia, jangan impor terus, Pak. Para petani diberi modal yang banyak, biar panennya melimpah. Mohon peran aktif pemerintah pusat untuk memberi modal atau pinjaman lunak, jangan sampai terjerat rentenir,” ujarnya.

Gita mengatakan revitalisasi pasar tradisional diharapkan mampu mendongkrak omset para pedagang pasar dan petani lokal. Gita mengakui permasalahan para pedagang pasar masih terbelit pinjaman modal rentenir. Menurut Gita, pemerintah akan segera membantu mencari solusi tersebut.

“Apapun yang sudah kita revitalisasi ini, sudah kelihatan sekali pasar tradisional melonjak omsetnya, penjualannya meningkat 30 persen hingga 85 atau 90 persen. Revitalisasi pasar ini menjadi bukti titik temu antara penjual dan pembeli di lokasi yang nyaman. Masih banyaknya pedagang pasar yang terjerat rentenir ya harus segera ditertibkan cara-cara pinjaman seperti itu.ya gimana caranya, nanti pemerintah akan membantu memberi pinjaman modal lunak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengelolaan Pasar pemkot Solo, Subagyo mengatakan Solo dianggap berhasil melakukan penataan dan pembangunan pasar tradisional di Indonesia. Menurut Subagyo, Pasar tradisional menjadi penopang ekonomi kerakyatan yang perlu ditata dan dilestarikan.

“Pada 2012 kemarin kita dapat bantuan sekitar 5 Milyar rupiah untuk revitalisasi pasar tradisional, Pasar Nongko, sekarng kita jadikan pasar percontohan seperti pasar yang sebelumnya sudah direvitalisasi, Pasar Gading. Jadi di Solo ada dua pasar tradisional yang dijadikan percontohan. Kelebihannya ya dari tata ruangnya, zonaninasi atau pemetaan jenis dagangan, dan tradisionalnya yaitu bentuk arsitektur bangunan dan sistem tawar menawar jual beli sebagai ciri khas pasar tradisional,” ujarnya.

Pemkot Solo menganggarkan dana total sebesar Rp 28,4 miliar dalam APBD 2013 ini untuk merevitalisasi empat pasar tradisional. Revitalisasi dari total 43 pasar tradisional di Solo baru mencapai 70 persennya.

Pendapatan dari sektor retribusi Pasar Tradisional di Solo masih mendominasi yang mencapai Rp 20 miliar per tahun.
XS
SM
MD
LG