Tautan-tautan Akses

Pedagang Kecil Berharap Nasib di Tahun Baru Lebih Baik

  • Iris Gera

Masyarakat Jakarta memadati sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin dalam merayakan malam Tahun Baru (31/12).

Masyarakat Jakarta memadati sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin dalam merayakan malam Tahun Baru (31/12).

Malam pergantian tahun 2011 ke 2012 berlangsung meriah di kota Jakarta terutama di pusat kota sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin.

Meski terhimpit oleh sulitnya ekonomi namun para pedagang kecil yang mencoba mencari nafkah di malam pergantian tahun tetap optimistis pada tahun 2012 kehidupannya akan lebih baik walaupun tetap berharap mendapat perhatian dari pemerintah.

Suasana meriah mewarnai malam pergantian tahun di sekitar Tugu Monas dan Bundaran Hotel Indonesia. Ribuan orang sudah memadati pusat kota sejak sore hari dan berjalan tertib sehingga petugas kepolisian tidak sulit mengatur berbagai persiapan hingga berakhirnya malam pergantian tahun.

Di tengah padatnya masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukkan kembang api, ribuan pedagang pun ikut memeriahkan suasana.

Pedagang nasi goreng, Arman kepada VoA mengungkapkan hampir setiap malam pergantian tahun ia mencoba mancari rezeki dengan harapan memperoleh hasil lebih dari hari-hari biasa. Ia berharap pada tahun 2012 pemerintah memperhatikan masyarakat kurang mampu termasuk para pedagang kecil dengan tetap memberi tempat untuk berdagang.

Diakuinya tahun 2011 adalah tahun yang penuh tekanan bagi para pedagang karena semakin seringnya aparat keamanan melakukan pembersihan kota dari keberadaan pedagang kecil

“Hari-hari itu jualan di terminal Blok M, kalau tahun baru Tugu Monas, ya yang penting kan ada sisanya gitu buat anak istri, kadang-kadang 30, kadang-kadang 40, soalnya saya lagi ini sih nyekolahin anak-anak, begini aja, nggak ada modal sih, kalau bisa sih pedagang jangan dikejar-kejar sama Kamtib, harus kasian lah sama pedagang (kecil),” harap Arman.

Hal senada juga diungkapkan, Sarwani pedagang minuman. Meski menurutnya dengan semakin banyak jumlah pedagang datang ke kota Jakarta membuat pendapatannya terus berkurang. Meski demikian kondisi tersebut tidak membuatnya mundur karena ditegaskannya ia akan tetap bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Setiap tahun baru sih kadang disini, kadang nggak, ya kalau laku sih ya lumayan sih, kalau kayak gini nggak tau deh biasanya sih jam segini-segini udah ngelayanin, kalau aku sih inginnya dibantu, orang jualan itu biasa aja nggak usah diusir,” papar Sarwani.

Endri, seorang pedagang terompet mengakui berdagang terompet pada malam tahun baru adalah pengalaman pertamanya.

Menurutnya, tidak ada salahnya ia berjualan daripada hanya berdiam diri dirumah kontrakannya. Dari sebuah terompet yang berhasil ia jual maka keuntungan yang ia dapat rata-rata Rp.1000.

“Saya baru dagang ini, baru mulai dagang, percobaan, baru pengen aja gitu terompet in ya nggak tau rejeki-rejekinya, setiap hari sih saya bekerja sebagai kuli,” ujar Endri.

Malam pergantian tahun di Jakarta dikawal sekitar 6.000 polisi. Menurut pantauan VoA meski bersikap persuasif namun para polisi tetap tegas dalam menindak masyarakat yang melanggar peraturan lalu lintas atau yang membawa petasan. Sebelumnya, pihak kepolisian sudah memberi peringatan kepada masyarakat, bahwa dilarang keras untuk merayakan pergantian tahun dengan menggunakan petasan.

XS
SM
MD
LG