Tautan-tautan Akses

PBB: Tingkat Kematian Anak-anak Global Turun Drastis

  • Lisa Schlein

Tingkat kematian anak-anak tertinggi masih dipegang oleh Afrika sub-Sahara, meskipun ada perbaikan di wilayah ini. (Foto: UNDP)

Tingkat kematian anak-anak tertinggi masih dipegang oleh Afrika sub-Sahara, meskipun ada perbaikan di wilayah ini. (Foto: UNDP)

PBB mengatakan bahwa kekayaan sebuah negara tidak terlalu berpengaruh dalam mengurangi angka kematian anak dibandingkan dengan kemauan dan aksi politik.

Tingkat kematian global untuk anak-anak di bawah usia lima tahun atau balita telah turun lebih dari setengahnya sejak tahun 1990, ketika Tujuan-tujuan Pembangunan Milenium (MDG) untuk menanggulangi dampak-dampak kemiskinan ditetapkan, menurut laporan PBB, Rabu (9/9).

Meski sukses besar, laporan kelompok antar-badan PBB itu menunjukkan bahwa sebagian negara masih luput dari target MDG untuk mengurangi kematian anak sebesar dua pertiganya.

Tahun 1990, 12,7 juta anak balita meninggal dunia akibat penyakit-penyakit yang sebagian besar dapat dicegah. PBB mengatakan bahwa kurang dari enam juta anak meninggal setiap tahun sekarang ini, atau 16.000 per hari. Meski ini kemajuan yang signifikan, badan-badan kesehatan mengatakan banyak yang masih harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa.

Laporan itu mencatat bahwa anak-anak menghadapi risiko terbesar dalam satu bulan pertama hidupnya, ketika 45 persen dari kematian balita terjadi. Satu juta bayi mati setiap hari ketika lahir, dan hampir dua juta mati dalam minggu pertama hidupnya, menurut laporan tersebut.

Flavia Bustreo, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan kepada VOA bahwa 10 negara Afrika sub-Sahara telah mencapai target MDG untuk memangkas tingkat kematian balita sebesar dua pertiganya. Meski demikian, ujarnya, Afrika masih ketinggalan dibandingkan negara-negara lainnya di dunia.

Wilayah sub-Sahara "memiliki tingkat kematian anak-anak tertinggi dan masih perlu ada kemajuan di sana," ujar Bustrero. "Wilayah kedua yang memerlukan kemajuan adalah Asia Selatan."

Bustreo mengatakan kekayaan sebuah negara tidak terlalu berpengaruh dalam mengurangi angka kematian anak dibandingkan dengan kemauan dan aksi politik. Ia mencatat bahwa Angola adalah negara berpenghasilan menengah, tapi memliki tingkat kematian anak balita tertinggi di dunia karena kurang berinvestasi dalam kesehatan anak.

Ia menambahkan bahwa salah satu negara termiskin di dunia, Ethiopia, telah mengurangi tingkat kematian anak sebanyak dua pertiganya dengan memprioritaskan kesehatan anak.

Laporan itu menyebutkan bahwa sekitar 62 dari negara-negara di dunia telah memenuhi target MDG untuk mengurangi angka kematian balita sebanyak dua pertiga. Tujuh puluh empat negara lain telah memotong tingkat kematian sedikitnya setengahnya. Penyebab utama kematian anak, menurut laporan tersebut, adalah kelahiran prematur, pneumonia, komplikasi selama melahirkan, diare, sepsis dan malaria.

XS
SM
MD
LG