Tautan-tautan Akses

PBB Tarik Sisa Staf Internasional dari Yaman

  • Lisa Schlein

Pemberontak Houthi memeriksa lokasi serangan udara Saudi di kota Saada (30/3). Situasi Yaman yang memburuk memaksa PBB menarik seluruh staf internasionalnya dari sana.

Pemberontak Houthi memeriksa lokasi serangan udara Saudi di kota Saada (30/3). Situasi Yaman yang memburuk memaksa PBB menarik seluruh staf internasionalnya dari sana.

PBB dan badan-badan bantuan internasional menyatakan cemas akan situasi HAM dan kemanusiaan di Yaman yang memburuk dengan cepat.

PBB mengatakan telah menarik sisa personil internasional-nya dari Yaman, sementara kepala badan HAM PBB memperingatkan bahwa negara itu berada di tepi jurang “kehancuran total.”

Juru bicara PBB Farhan Haq hari Selasa (31/3) mengatakan ke-13 pegawai internasional yang tersisa di Yaman itu telah ditarik dan akan kembali kesana jika situasinya memadai. Ia mengatakan Jamal Benomar, utusan PBB untuk Yaman, telah direlokasi ke Yordania. Haq mengatakan operasi PBB di Yaman akan dikelola oleh beberapa ratus staf lokal.

Di Jenewa, Komisaris Tinggi PBB Untuk HAM Zeid Ra’ad Al Hussein mengatakan “situasi di Yaman sangat mencemaskan,” di mana puluhan warga sipil terbunuh dalam beberapa hari ini.

PBB dan badan-badan bantuan internasional menyatakan cemas akan situasi HAM dan kemanusiaan di Yaman yang memburuk dengan cepat. Badan-badan itu mengimbau pihak-pihak yang bertikai agar melindungi warga sipil dan memungkinkan bantuan medis dan bantuan lainnya, yang sangat dibutuhkan, sampai ke para korban.

Serangan udara pasukan koalisi Timur Tengah yang dipimpin Arab Saudi banyak menewaskan warga sipil Yaman. Serangan bom koalisi itu hari Senin dilaporkan adalah yang paling gencar sejak operasi itu dimulai beberapa hari lalu.

Salah satu lokasi yang diserang adalah kamp Al-Mazraq yang menampung pengungsi dalam negeri di Harad, di Yaman utara. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mempunyai 400 staf di Yaman, banyak dari mereka berada di kamp itu hari Senin.

Juru bicara IOM Joel Millman mengatakan 40 orang tewas dan 200 terluka.
"Kami diberitahu bahwa staf kami sepanjang malam berlindung di sana. Serangan bom mengganggu sambungan Internet dan telepon. Tetapi mereka hari ini keluar untuk melakukan apa saja yang mungkin di rumahsakit, memulihkan sistem distribusi air minum. Kami juga telah dihubungi pemerintah Sri Lanka, Sudan, Ethiopia dan beberapa lainnya untuk memulai operasi membantu pengungsian sebagian petugas mereka dari negara ini," paparnya.

Banyak negara Liga Arab bergabung dengan Arab Saudi dalam upaya mengalahkan pemberontak Houthi yang didukung Iran dan memulihkan kekuasaan Presiden Yaman, Abd Rabbu Mansour Hadi. Kepada VOA, jurubicara Badan PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) William Spindler mengatakan badan tersebut telah mencatat sekitar seperempat juta pengungsi di Yaman, umumnya warga Somalia, dan juga warga Ethiopia, Irak dan negara lain. Ia menambahkan, dari pertempuran sebelumnya, terdapat sekitar 340 ribu pengungsi di Yaman.

"Informasi terakhir yang ada pada kami, sejumlah orang melarikan diri dari Yaman menuju Somalia dan Djibouti. Kami tidak tahu berapa banyak dari orang-orang itu adalah warga Yaman. Mungkin di antara mereka terdapat sebagian pengungsi Somalia yang kembali ke Somalia karena situasi di Yaman begitu mengerikan. Kami sedang menyiapkan pusat transit di Djibouti dan kami juga membuat persiapan di Somalia," Ujar Spindler.

Komite Internasional Palang Merah mendesak faksi-faksi yang bertikai agar memungkinkan pengiriman pasokan yang dibutuhkan guna merawat korban bentrokan dan serangan udara yang mematikan selama seminggu.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi, Zeid Raad Al Hussein, mengatakan pembunuhan begitu banyak warga sipil, yang tidak tahu apa-apa, tidak bisa diterima dan mengecam semua serangan terhadap rumahsakit dan fasilitas medis lain.

XS
SM
MD
LG