Tautan-tautan Akses

PBB: Situasi Keamanan Memburuk di Republik Afrika Tengah


Tentara dari pasukan aliansi pemberontak menjaga masjid tempat Presiden Republik Afrika Tengah yang baru Michel Djotodia shalat Jumat di ibukota Bangui (29/3). (Foto: Dok)

Tentara dari pasukan aliansi pemberontak menjaga masjid tempat Presiden Republik Afrika Tengah yang baru Michel Djotodia shalat Jumat di ibukota Bangui (29/3). (Foto: Dok)

PBB mengatakan pihaknya cemas karena situasi kemanan di Republik Afrika Tengah “memburuk secara cepat” setelah kudeta pada Maret.

Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Hak Asasi Manusia Navi Pillay mengatakan kondisi keamanan di Republik Afrika Tengah memburuk secara cepat.

Menurutnya, telah terjadi serangkaian dugaan pelanggaran HAM, termasuk pemerkosaan dan pembunuhan terhadap sedikitnya 119 orang sejak 24 Maret, setelah pemberontak dari aliansi Seleka menggulingkan Presiden Republik Afrika Tengah yang lama berkuasa, Francois Bozize.

Pillay mengatakan, 20 dari pembunuhan itu terjadi baru-baru ini, sehingga mendorong munculnya sebuah pernyataan terpisah dari Sekjen PBB Ban Ki-moon yang mendesak pihak berwenang untuk memulihkan ketertiban hukum.

Pihak berwenang di ibukota Bangui mengatakan, gerombolan warga sipil yang marah karena penjarahan yang dilakukan rezim baru telah membunuh tujuh pemberontak Seleka tidak bersenjata sejak Sabtu (13/4). Jenderal Ousmane Mehamat mengatakan, polisi militer telah melucuti senjata para pemberontak dalam usaha memulihkan ketenangan di kawasan permukiman yang rusuh di ibukota.

PBB mengatakan sekitar 37.000 orang telah melarikan diri dari Republik Afrika Tengah untuk menghindari kekerasan, dan puluhan ribu lainnya mengungsi di dalam negeri.
XS
SM
MD
LG