Tautan-tautan Akses

PBB Serukan Program Relokasi Massal untuk Migran


Adnan Shanan (tengah) seorang pengungsi dari Latakia di Suriah, ikut protes di depan kereta di stasiun kereta api Bicske, Hungaria, 4 September 2015.

Adnan Shanan (tengah) seorang pengungsi dari Latakia di Suriah, ikut protes di depan kereta di stasiun kereta api Bicske, Hungaria, 4 September 2015.

UNHCR atau Komisioner Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi menyerukan kepada Uni Eropa untuk menerima hingga 200.000 pengungsi untuk "program relokasi massal" untuk mengurangi arus migran yang datang ke perbatasan Uni Eropa dan mencari perlindungan.

Antonio Guterres mengeluarkan pernyataan hari Jumat (4/9) meminta Uni Eropa untuk mengimplementasikan sebuah program yang mengharuskan partisipasi semua negara-negara Uni Eropa untuk membantu para pengungsi yang benar-benar membutuhkan perlindungan.

Guterres mengatakan krisis pengungsi ini akan menjadi "saat yang menentukan" bagi Uni Eropa. Ia mengatakan bila Uni Eropa terpecah pendapatnya tentang masalah ini hanya akan menguntungkan para penyelundup dan pedagang manusia.

Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan hari Jumat bahwa Inggris akan menerima "ribuan" pengungsi lagi dari Suriah, lebih banyak dari 5.000 pengungsi yang telah disetujui oleh negara itu. Cameron mengatakan keputusan itu diambil sebagai jawaban untuk "mengurangi krisis ini dan mengurangi penderitaan orang-orang," dan mengeluarkan pengumuman tentang keputusan ini setelah bertemu di Lisbon dengan perdana menteri Portugis.

Seorang migran memegang kertas dengan tulisan di depan stasiun kereta Keleti di Budapest, Hungaria, 4 September 2015.

Seorang migran memegang kertas dengan tulisan di depan stasiun kereta Keleti di Budapest, Hungaria, 4 September 2015.

Menolak untuk turun

Sementara itu, di kota Bicske, Hungaria, ratusan pengungsi menolak turun dari kereta yang mereka tumpangi di Budapest dan berharap bisa menuju Jerman, yang telah mengumumkan akan menerima hingga 800.000 pendaftaran status pengungsi.

Pihak berwenang Hungaria bersikeras mereka harus mencatat migran sesuai dengan peraturan Uni Eropa.

Para petugas di Bicske mengatakan hanya sekitar 16 orang yang turun dari kereta itu untuk didaftarkan di sebuah kamp pengungsi, semenara ratusan lainnya tetap tinggal di kereta, meneriakkan "no camp" dan "Jerman, Jerman."

Di tempat lain di Hungaria, petugas mengatakan 300 migran kabur dari kamp penerimaan di Roszke, dekat perbatasan Serbia. Kantor berita Perancis mengatakan polisi sedang berusaha menangkap mereka.

Sedikitnya 30 migran dikhawatirkan tenggelam di perairan Libya karena kapal mereka terbalik, menurut Organisasi Internasional untuk Migran pada hari Jumat. Dalam sebuah pernyataan, seorang juru bicara mengatakan pada wartawan 91 migran diselamatkan setelah perahu karet mereka mulai tenggelam, mengakibatkan kepanikan dan beberapa orang terjatuh dari kapal tersebut. Upaya penyelamatan sedang dilakukan.

Langkah-langkah nekad

Ratusan ribu migran dari Suriah, Afghanistan dan Irak telah mengambil langkah-langkah nekad sejak bulan Januari untuk tiba di Uni Eropa, mencoba melarikan diri dari perang dan kemiskinan dan mendapatkan keselamatkan dan kesempatan.

Yunani dan Italia adalah tempat pemberhentian pertama bagi banyak migran setelah menyeberangi Laut Tengah dalam perjalanan yang berbahaya.

Para pemimpin Perancis, Jerman dan Italia mengatakan hari Kamis harus ada pembagian migran yang adil di seluruh Uni Eropa.

Presiden Parlemen Eropa Martin Schultz mengatakan negara-negara Uni Eropa, dengan populasi lebih dari 500 juta, bisa menerima sejumlah besar migran tanpa ada masalah, asalkan para migran itu tidak hanya terkonsentrasi di beberapa negara.

Abdullah Kurdi, ayah Aylan Kurdi yang berusia tiga tahun, menangis ketika ia meninggalkan kamar mayat di Mugla, Turki, 3 September 2015.

Abdullah Kurdi, ayah Aylan Kurdi yang berusia tiga tahun, menangis ketika ia meninggalkan kamar mayat di Mugla, Turki, 3 September 2015.

Balita Suriah dipulangkan

Dalam perkembangan lain, ayah seorang pengungsi Suriah muda yang tubuhnya ditemukan terdampar di pantai Turki dikembalikan ke kampung halamannya di Suriah.

Abdullah Kurdi, yang anaknya Aylan meninggal bersama dengan kakak dan ibunya di perahu pengungsi yang terbalik, ikut pulang dengan peti mati ketiga anggota keluarganya ke kota Kobani, Suriah.

Foto Aylan yang berusia tiga tahun mengenakan kaos merah dan sepatu dengan posisi telungkup, yang memilukan, terpampang di halaman depan surat kabar di seluruh dunia dan media sosial. Anak balita itu menjadi pengingat tentang krisis pengungsi yang disebabkan oleh perang Suriah.

28 anggota Uni Eropa berencana melaksanakan pertemuan darurat pada 14 September.

Polisi membawa tubuh seorang anak migran yang sudah tak bernyawa setelah sejumlah migran dilaporkan meninggal dan beberapa hilang akibat kapal yang mereka tumpangi ke pulau Yunani, Kos, terbalik, dekat resor Bodrum, Turki, 1 September 2015.

Polisi membawa tubuh seorang anak migran yang sudah tak bernyawa setelah sejumlah migran dilaporkan meninggal dan beberapa hilang akibat kapal yang mereka tumpangi ke pulau Yunani, Kos, terbalik, dekat resor Bodrum, Turki, 1 September 2015.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG