Tautan-tautan Akses

PBB Serukan Kerjasama Kawasan Asia Tenggara Lawan Perdagangan Satwa Liar


Abbot di "Tiger Temple" Phra Wisutthi Sarathera yang juga dikenal sebagai Luang Ta Chan, member makan hewan di kebun binatang di distrik Saiyok, provinsi Kanchanaburi, Bangkok barat, Thailand, 9 Juni 2016.

Abbot di "Tiger Temple" Phra Wisutthi Sarathera yang juga dikenal sebagai Luang Ta Chan, member makan hewan di kebun binatang di distrik Saiyok, provinsi Kanchanaburi, Bangkok barat, Thailand, 9 Juni 2016.

Penegakan undang-undang yang lebih kuat dan kerjasama kawasan untuk melawan perdagangan satwa liar dan kayu dibutuhkan di Asia Tenggara, kata Kantor PBB urusan Narkoba dan Kejahatan.

Seruan itu dikeluarkan sementara Thailand meningkatkan penyelidikan peternakan harimau, setelah penggrebekan yang diberitakan luas mengungkapkan bagian-bagian tubuh harimau dan yang diawetkan di sebuah vihara Buddha di Thailand barat.

Thailand telah lama berusaha menanggulangi nama buruknya sebagai transit penting dan tempat tujuan perdagangan satwa liar dari sampai sejauh Afrika hingga pemburuan harimau Indochinanya sendiri.

Tahun 2007 Thailand menyetujui Konvensi Perdagangan Jenis Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah atau CITES, resolusi yang menuntut diakhirinya pengembangbiakan gencar harimau untuk diperdagangkan.

Tetapi Edwin Wiek, pendiri Wildlife Friends Foundation, mengatakan populasi harimau di peternakan dan kebun binatang telah meningkat tajam dari hanya 660 ekor tahun 2007 menjadi hampir 1.500 ekor tahun 2016 di kira-kira 30 peternakan seluruh Thailand.

“Thailand, sama seperti Laos, Vietnam, dan China, pada dasarnya tidak memenuhi janji mereka berdasarkan persetujuan CITES,” kata Wiek.

Tulang dan kelamin jantan Harimau mengalami permintaan yang tinggi di pasar China Selatan dan Vietnam yang akan digunakan untuk obat tradisional. Tulang juga dibuat menjadi pil dan dijual sampai harga $300 di Amerika Serikat.

Perhatian yang timbul kembali pada peternakan harimau dan potensinya untuk diperdagangan secara gelap ke pasar-pasar yang kaya di China dan Vietnam, dan disusul oleh penggrebekan di sebuah vihara harimau Buddhis yang terkenal atau Wat Pa Luang Maha Bua, di provinsi Kanchanaburi, Thailand barat, bulan Mei lalu.

Lebih dari 140 ekor harimau telah ditahan di kompleks vihara dan kebun binatang, dan 15 ekor dari harimau dan anak harimau itu dibawa setiap hari ke depan wisatawan untuk disentuh dan kesempatan berfoto dan interaksi dengan pengunjung.

“Skandal mengenai vihara itu terbongkar ketika para pejabat Departemen Taman Nasional memindahkan harimau itu ke tempat penampungan sementara yang baru, mengungkapkan 60 kulit bulu dan bangkai anak harimau yang dibotolkan dan dibekukan, tumpukan bagian tubuh binatang lain yang terancam punah, bersama kulit harimau di kediaman pribadi pemimpin vihara tersebut. [gp]

XS
SM
MD
LG