Tautan-tautan Akses

PBB Minta Negara Asia Terima Pengungsi Burma

  • Lisa Schlein

Petugas penjaga perbatasan Bangladesh memeriksa penyintas yang diselamatkan dari kapal yang tenggelam di Teknaf, Bangladesh. (Foto: Dok)

Petugas penjaga perbatasan Bangladesh memeriksa penyintas yang diselamatkan dari kapal yang tenggelam di Teknaf, Bangladesh. (Foto: Dok)

Seiring meningkatnya jumlah warga Rohingya yang melarikan diri dari Burma, UNHCR meminta negara-negara tetangga membuka pintu untuk mereka.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi, UNHCR, meminta negara-negara di Asia Tenggara untuk membuka perbatasannya bagi orang-orang yang merasa tidak aman dan melarikan diri dari tindak kekerasan di Burma.

UNHCR menyatakan mereka merasa prihatin dengan peristiwa tenggelamnya warga Rohingya Muslim yang melarikan diri dengan kapal dari negara bagian Rakhine di Burma untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dalam dua minggu terakhir, dua kapal dilaporkan tenggelam di Laut Bengal dengan perkiraan 240 penumpang di atasnya. UNHCR menyatakan warga Rohingya dari negara bagian Rakhine ada di antara penumpang tersebut.

Juru bicara UNHCR Melissa Fleming mengatakan patroli angkatan laut dan nelayan Bangladesh dilaporkan menyelamatkan 40 orang dari kapal yang karam tersebut.

“Warga melihat tubuh manusia mengapung di air, membuat kita mengambil kesimpulan bahwa nasib 200 penumpang lainnya tidak baik,” ujar Fleming.

“Kedua insiden ini menandai awal yang mencemaskan untuk musim berlayar tradisional di Laut Bengal, ketika gabungan pencari suaka dan imigran mempertaruhkan nyawanya dengan menaiki kapal ikan, dengan harapan mencari keamanan dan hidup yang lebih baik di Asia Tenggara,” tambahnya.

Sekitar 7.000-8.000 orang meninggalkan Burma lewat Laut Bengal selama musim berlayar yang lalu dari Oktober 2011 sampai Maret 2012. UNHCR mengatakan mereka khawatir jumlahnya akan lebih banyak lagi pada minggu-minggu mendatang karena ketegangan yang meningkat antara kelompok mayoritas Budha Rakhine dan warga minoritas Rohingya Muslim di negara bagian Rakhine.

Kekerasan antara komunitas itu pecah pada Juni. Hal ini diperparah pada Oktober dengan perseteruan etnik yang baru, yang telah menewaskan puluhan orang, menghancurkan ribuan rumah dan membuat 110.000 orang mengungsi.

Fleming mengatakan UNHCR khawatir banyak warga Rohingya, karena putus asa dan takut, dapat mempertaruhkan nyawanya dengan melintasi Laut Bengal dengan rakit seadanya.

“UNHCR mendesak pemerintah Myanmar untuk mengambil tindakan segera untuk mengatasi masalah ini, yang kita sebut sebagai faktor pendorong yang membuat orang pergi,” ujar Fleming.

“Isu-isu ini juga berhubungan dengan masalah kewarganegaraan dan kondisi ‘stateless’ terkait warga Rohingya. Suasana sudah kembali tenang, namun masih rentan dan ketegangan tetap tinggi. Masih banyak ketakutan bahwa kekerasan akan meletus lagi,” tambahnya.

Warga Rohingya Muslim telah tinggal di Burma selama bergenerasi lamanya, namun tidak pernah diberi kewarganegaraan atau ‘stateless.’ Mereka tidak mendapat hak dan manfaat yang sama yang diperoleh warga negara Burma.

Fleming mengatakan situasi ini tidak berkelanjutan. Burma ada di tengah sorotan dunia saat ini, ujarnya, dan dengan adanya pemerintahan baru serta keterlibatan pemenang Nobel Aung San Su Kyi, ada harapan bahwa isu yang telah lama muncul ini dapat diselesaikan.
XS
SM
MD
LG