Tautan-tautan Akses

PBB Khawatir Meningkatnya Korban Sipil di Afghanistan

  • Sharon Behn

Warga Afghanistan melakukan shalat jenazah bagi tujuh warga sipil yang tewas akibat bom pinggir jalan di distrik Alingar, provinsi Laghman, Afghanistan timur bulan Juni lalu.

Warga Afghanistan melakukan shalat jenazah bagi tujuh warga sipil yang tewas akibat bom pinggir jalan di distrik Alingar, provinsi Laghman, Afghanistan timur bulan Juni lalu.

Lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas di Afghanistan selama 6 bulan pertama pada tahun 2013, atau meningkat sebesar 23 persen dibandingkan korban tewas dalam tahun 2012 lalu.

Jumlah warga sipil yang tewas di Afghanistan pada tahun 2013 telah meningkat sebesar 23 persen dibandingkan tahun lalu. Misi Bantuan PBB mengatakan sebagian besar kematian disebabkan oleh serangan dari pasukan anti-pemerintah.

Enam bulan pertama tahun 2013 suram bagi penduduk sipil Afghanistan. Terperangkap dalam pertarungan kekuasaan antara Taliban dan militan lainnya serta pemerintah Afghanistan yang didukung Amerika, warga sipil yang tewas mencapai ratusan.

Laporan pertengahan tahun Misi Bantuan PBB di Afghanistan, UNAMA mengatakan bahwa lebih dari 1.300 warga sipil tewas dan lebih dari 2.500 cedera selama semester pertama tahun ini.

Laporan itu mengatakan sebagian besar tewas karena IED (improvised explosive device) atau bom rakitan yang disembunyikan pasukan anti pemerintah di kawasan padat penduduk. Pemberontak Taliban menolak isi laporan itu dan menyebutnya sebagai propaganda.

Tapi Georgette Gagnon, Direktur HAM, UNAMA menyerukan agar militan mengakhiri penggunaan bom-bom rakitan.

"Kami mengamati peningkatan Taliban dalam penggunaan IED memakai remote control yang konon lebih tepat sasaran- artinya mereka dapat menargetkan sasaran militer lebih tepat - kami telah melihat peningkatan penggunaan dalam jenis-jenis bom rakitan itu. Mereka menempatkan bom-bom rakitan ini dan meledakkannya di tempat-tempat yang kerap dikunjungi warga sipil seperti taman-taman, pasar raya dan jalan-jalan umum yang sibuk, " kata Gagnon.

Menurut laporan PBB itu, warga sipil kerap sekali terjebak dalam pertempuran senjata dan bom yang berkecamuk di provinsi-provinsi di mana pasukan internasional telah ditarik atau menarik diri dan pasukan pro-dan anti-pemerintah berjuang untuk memperebutkannya.

Dengan batas waktu pasukan internasional meninggalkan negara itu akhir 2014, Gagnon mengatakan peningkatan kematian di medan pertempuran merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan.

Perempuan Afghan dan anak-anak semakin dihadapkan pada kekerasan. UNAMA mendokumentasikan peningkatan tajam sebesar 72 persen anak-anak yang tewas dan luka akibat serangan bom rakitan.

Angheza Shinwari, anggota dewan provinsi bagian timur provinsi Nangarhar Afghanistan mengatakan pasukan keamanan Afghanistan tidak siap untuk membela penduduk.

Shinwari mengatakan ia tidak merasa optimis mengenai proses transisi keamanan. Ia memuji pria Afghanistan karena "sangat berani" dan Tuhan memberkati mereka. Tapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Taliban menolak laporan PBB itu sebagai propaganda tak berdasar. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis ke media Taliban mengatakan bahwa sembilan persen kematian warga sipil yang disebut PBB disebabkan pasukan pro-pemerintah "tidak sama " dengan kenyataan di lapangan.
XS
SM
MD
LG