Tautan-tautan Akses

PBB Kecam Pembunuhan 2 Anggota Pasukan Perdamaian di Republik Afrika Tengah


Pasukan tentara dari Republik Afrika Tengah sedang menjaga sebuah gedung yang digunakan untuk pertemuan dengan Pasukan Khusus AS dan tentara Uganda untuk mencari tentara Joseph Kony di Obo, Republik Afrika Tengah (Foto: dok).

Pasukan tentara dari Republik Afrika Tengah sedang menjaga sebuah gedung yang digunakan untuk pertemuan dengan Pasukan Khusus AS dan tentara Uganda untuk mencari tentara Joseph Kony di Obo, Republik Afrika Tengah (Foto: dok).

Republik Afrika Tengah telah dilanda kekacauan sejak 2013, ketika pemberontak Muslim merebut negara yang mayoritas penduduknya Kristen tersebut dan menyingkirkan presiden ketika itu Francois Bozize.

Dewan Keamanan PBB telah mengecam keras pembunuhan dua anggota pasukan perdamaian PBB asal Maroko, Selasa lalu (3/1) di Republik Afrika Tengah. Kedua anggota tersebut tewas sewaktu mengiringi truk-truk bahan bakar sekitar 60 kilometer di sebelah barat kota Obo. Mereka diserang orang-orang tak dikenal yang kemudian melarikan diri ke semak-semak.

Dalam pernyataan yang dirilis hari Rabu (3/1), Dewan menyatakan “serangan-serangan yang menarget pasukan perdamaian bisa dianggap sebagai kejahatan perang” dan menekankan bahwa mereka yang bertanggungjawab atas serangan itu harus mempertanggungjawabkannya.

Republik Afrika Tengah telah dilanda kekacauan sejak 2013, ketika pemberontak Muslim merebut negara yang mayoritas penduduknya Kristen tersebut dan menyingkirkan presiden ketika itu Francois Bozize.

Peta Republik Afrika Tengah

Peta Republik Afrika Tengah

Pada Desember tahun itu, PBB mengerahkan sekitar 13.000 anggota pasukan perdamaian dengan tugas utama melindungi masyarakat.

Para pemantau sanksi-sanksi PBB menyatakan bulan lalu bahwa kekerasan meluas meskipun pemilu demokratis sukses diselenggarakan Februari lalu. Banyak daerah terpencil di negara itu praktis masih berada di luar kekuasaan pemerintah.

Tentara Perlawanan Tuhan, sebuah kelompok pemberontak Uganda, aktif selama beberapa tahun di sekitar Obo, di bagian tenggara negara itu.

Human Rights Watch menyatakan sebuah kelompok bersenjata baru telah menewaskan sedikitnya 50 warga sipil sewaktu berupaya menguasai beberapa daerah di kawasan Baratlaut negara itu. [uh/ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG