Tautan-tautan Akses

PBB Gelar Sidang Darurat Soal Serangan Kimia di Suriah


Seorang pria memegang jenazah seorang anak di antara korban-korban yang menurut aktivis Suriah tewas akibat serangan senjata kimia.

Seorang pria memegang jenazah seorang anak di antara korban-korban yang menurut aktivis Suriah tewas akibat serangan senjata kimia.

Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat guna menanggapi klaim kelompok oposisi Suriah bahwa pasukan pemerintah menewaskan ratusan warga sipil dengan serangan senjata kimia di dekat Damaskus.

Dewan Keamanan PBB dijadwalkan memulai pertemuan tertutup jam 3 sore waktu New York. Liga Arab dan negara-negara Barat termasuk Amerika mengimbau pemerintah Suriah untuk mengijinkan masuknya tim inspeksi PBB ke Damaskus, guna mengunjungi lokasi-lokasi serangan hari Rabu itu secepatnya.

Pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al Assad membantah menggunakan senjata kimia dalam serangan di pinggiran kota Damaskus yang dikuasai pemberontak. Pihaknya menuduh kelompok oposisi mencoba mengalihkan perhatian tim pemeriksa PBB yang tiba di Suriah pekan ini, untuk menyelidiki klaim pemerintah bahwa para pemberontak menggunakan senjata-senjata kimia awal tahun ini.

Rusia, sekutu dekat Suriah, menuduh kelompok oposisi melakukan “provokasi terencana” dengan mengklaim adanya korban akibat serangan senjata kimia pemerintah segera setelah tim inspeksi PBB tiba.

Kelompok oposisi melaporkan jumlah korban tewas dalam serangan hari Rabu sangat bervariasi. Pemimpin oposisi Koalisi Nasional Suriah George Sabra yang berada di pengasingan, mengatakan dalam konferensi pers di Istanbul, jumlah korban tewas mencapai hingga 1.300 orang. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Aktivis-aktivis Suriah mengatakan pasukan pemerintah melepaskan berondongan artileri dan roket ke beberapa tempat di pinggiran Damaskus, yang sebagian diantaranya diduga mengandung bahan kimia. Mereka memasang video di internet memperlihatkan sejumlah mayat orang dewasa dan anak-anak yang dibaringkan di lantai klinik sementara, tanpa tanda luka-luka.

Gedung Putih mengatakan “sangat prihatin” dengan laporan itu dan mendesak agar mereka yang bertanggungjawab menggunakan senjata kimia agar dimintai pertanggungjawaban. Gedung Putih mengatakan pemerintah Suriah harus menjamin tim penyelidik PBB “segera bisa menghubungi para saksi dan individu yang terkena dampak” dan mengijinkan mereka “memeriksa dan mengumpulkan bukti-bukti fisik tanpa campur tangan atau manipulasi apapun”.

Kantor Sekjen PBB Ban Ki-Moon mengatakan “terkejut” dengan tuduhan penggunaan senjata kimia di Damaskus. Dikatakan, tim inspeksi PBB yang dipimpin ilmuwan Swedia Ake Sellstorm sedang “berbicara” dengan pemerintah Suriah tentang insiden-insiden tersebut.

Khaled Saleh, juru bicara kelompok oposisi utama Koalisi Nasional Suriah mengecam keras laporan serangan tersebut, dan menyebut situasi di daerah itu “sangat mengerikan”.

Mandat tim inspeksi PBB terbatas pada menentukan apakah senjata kimia, termasuk gas sarin dan agen-agen saraf beracun lainnya, digunakan atau tidak, tapi tidak oleh siapa.

Pemerintah Suriah juga membatasi misi itu untuk menyelidiki beberapa insiden khusus, termasuk serangan di kota Khan Al-Assal di pinggiran Aleppo bulan Maret lalu.
XS
SM
MD
LG