Tautan-tautan Akses

PBB Akui Perundingan soal Siprus Berakhir Hampir Tanpa Kemajuan

  • Nathan Morley

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon (tengah) bersama Presiden Siprus-Yunani Dimitris Christofias (kanan) dan pemimpin Siprus-Turki Dervis Eroglu setelah pertemuan di Markas Besar PBB di New York (Rabu, 25/1).

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon (tengah) bersama Presiden Siprus-Yunani Dimitris Christofias (kanan) dan pemimpin Siprus-Turki Dervis Eroglu setelah pertemuan di Markas Besar PBB di New York (Rabu, 25/1).

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengakui perundingan PBB mengenai Siprus berakhir hampir tanpa kemajuan, tetapi menambahkan ia mungkin akan mengadakan konferensi internasional pada akhir April atau awal Mei mengenai upaya penyelesaian pulau yang terpecah itu.

Perundingan tiga pihak terkini antara Ban Ki-moon dengan dua pemimpin Siprus yang terpecah agaknya merupakan inti dalam upaya PBB untuk mendorong kedua pihak yang sudah lama berseteru itu agar maju dengan perundingan perdamaian mereka yang berjalan seret.

Perundingan antara Presiden Demetris Christofias, yang mengepalai pemerintahan Siprus-Yunani yang diakui secara internasional, dengan pemimpin Siprus-Turki Dervis Eroglu secara efektif macet, dan mungkin gagal.

Para komentator mulanya yakin Sekretaris Jenderal PBB itu mungkin berhasil mengatasi masalah Siprus di mana lainnya meragukan, tetapi ia mengakui isu-isu utama, seperti properti yang ditinggalkan oleh warga Siprus Yunani yang kemudian ditinggali oleh para pemukim dari Turki daratan, masih belum terselesaikan.

“Pembahasan dalam dua hari ini dilakukan secara mendalam, walaupun hanya sedikit kemajuan yang dicapai. Saya mengingatkan kepada kedua pemimpin itu bahwa masalah ini adalah masalah Siprus dan harus diselesaikan oleh Siprus. Keberadaan PBB di sini bukan untuk memaksakan penyelesaian pada kedua pihak,” ujar Ban Ki-moon.

Perundingan Siprus itu akan dilanjutkan di Nikosia, dan Ban Ki-moon mengatakan Penasihat Khusus mengenai masalah Siprus, Alexander Downer, akan menilai kemajuannya bulan Maret.

Jika penilaian Downer positif, PBB akan mengadakan konferensi internasional mengenai isu Siprus, yang akan memasukkan Yunani, Turki, dan Inggeris.

Kegagalan untuk menyepakati kesepakatan bisa berarti akhir bagi dialog masa depan yang disponsori PBB, dan kedua pemimpin Siprus telah menekankan “tidak ada rencana lain”.

Upaya untuk menyatukan lagi Siprus telah berlangsung lebih dari 30 tahun, dengan putaran perundingan terakhir yang diadakan tahun 2008.

Setelah hampir empat dasawarsa perselisihan, Siprus menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi PBB. Tetapi, juru bicara pasukan penjaga perdamaian PBB Michel Bonnardeaux mengatakan yakin perbedaan antara kedua pihak bisa dijembatani.

“Sebuah kesepakatan mungkin saja tercapai. Putaran perundingan terakhir adalah tiga tahun lalu, dan menurut pandangan PBB, sebuah kesepakatan mungkin dicapai dengan adanya itikad politik yang cukup,” ujarnya.

Siprus terpecah sejak 1974, ketika Turki mennyerbu bagian utara pulau itu sebagai tanggapan atas kudeta militer yang didukung Pemerintah Yunani. Siprus bergabung dengan Uni Eropa tahun 2004, dan Republik Turki di Siprus Utara yang diproklamirkan sendiri itu hanya diakui oleh Turki.

XS
SM
MD
LG