Tautan-tautan Akses

Paus Serukan Diakhirinya Pembantaian Warga Sipil di Suriah

  • Selah Hennessy

Paus Benediktus XVI memberikan pidato tahunan di hadapan para diplomat dari sekitar 180 negara di Vatikan hari Senin (7/1).

Paus Benediktus XVI memberikan pidato tahunan di hadapan para diplomat dari sekitar 180 negara di Vatikan hari Senin (7/1).

Dalam pidato tahunan di hadapan para diplomat dari 180 negara di Vatikan, Paus Benediktus XVI menyerukan diakhirinya pembantaian penduduk sipil yang tidak henti-hentinya di Suriah.

Dalam pidato tahunannya, Paus Benediktus mengatakan, perhatiannya yang “pertama dan paling penting” adalah Suriah, di mana perang saudara telah berkobar selama 21 bulan. Paus Benediktus juga mengutuk “serangan teroris” terhadap umat Kristen di Nigeria dan tindak kekerasan di Mali.

Paus mengatakan, ia meminta agar diadakan gencatan senjata dan dimulainya pembicaraan yang konstruktif untuk mengakhiri perang.

Para diplomat dari hampir 180 negara dan organisasi dari seluruh dunia mendengarkan pidato Paus Benediktus di Vatikan. Paus Benediktus mendesak para diplomat itu untuk memperingatkan pemerintah mereka masing- masing akan perlunya bantuan untuk mengatasi keadaan kemanusiaan di Suriah.

PBB memperkirakan lebih dari 60.000 orang telah tewas sejak konflik itu dimulai.

Paus Benediktus juga mengatakan dia mengharapkan kehidupan berdampingan secara damai antara Israel dan Palestina, dan perdamaian serta rekonsiliasi agama di Irak dan Lebanon.

Mengenai Afrika Sub Sahara Paus Benediktus menyoroti nasib umat Kristen di Nigeria. Paus Benediktus mengatakan, ia sangat sedih mendengar bahwa pada waktu umat Kristen merayakan Hari Natal, beberapa dari mereka dibunuh.

Pada Malam Natal, orang-orang bersenjata menyerang sebuah gereja di negara bagian Yobe di timur laut, menewaskan enam orang. Yobe berdampingan dengan negara bagian Borno, pusat sekte Islam radikal Boko Haram, yang menyerang gereja-gereja pada Hari Natal dalam tahun-tahun belakangan ini.

Paus Benediktus juga menyerukan kepada masyarakat internasional agar menyelesaikan keadaan di Mali, di mana kelompok militan Islamis merebut kekuasaan di utara negara itu.

Organisasi-organisasi HAM mengatakan, kelompok-kelompok militan telah bertekad melakukan sejumlah besar serangan, termasuk eksekusi dan amputasi untuk memberlakukan undang-undang Islam yang keras.

Paus Benediktus juga mengatakan, ia berharap pembicaraan perdamaian di Republik Afrika Tengah, di mana berontak telah mengambil alih kekuasaan di sepertiga negara itu, akan menghindarkan penduduk dari “kesengsaraan akibat perang saudara lagi”.
XS
SM
MD
LG