Tautan-tautan Akses

Paus: Gereja Harus Akhiri Obsesi Atas Gay, Kontrasepsi, Aborsi


Paus Fransiskus dalam sebuah misa di Vatikan (13/9). (Reuters/Giampiero Sposito)

Paus Fransiskus dalam sebuah misa di Vatikan (13/9). (Reuters/Giampiero Sposito)

Paus mengatakan Gereja telah “mengunci diri dalam hal-hal kecil, dalam aturan-aturan yang berpikiran sempit” dan seharusnya tidak terlalu mudah menghakimi.

Paus Fransiskus mengatakan Gereja Katolik harus mengakhiri obsesi mengenai ajaran tentang aborsi, kontrasepsi dan homoseksualitas dan agar menjadi lebih pemaaf, atau menghadapi risiko kejatuhan seluruh struktur moral.

Dalam sebuah wawancara yang sangat terus terang dengan sebuah jurnal Jesuit Italia, Paus mengatakan Gereja telah “mengunci diri dalam hal-hal kecil, dalam aturan-aturan yang berpikiran sempit”, dan seharusnya tidak terlalu mudah menghakimi.

Para pendeta seharusnya lebih menyambut dengan tangan terbuka, bukannya menjadi birokrat-birokrat yang dingin dan dogmatis. Ruang pengakuan, ujarnya, “bukanlah kamar penyiksaan tapi tempat di mana ampunan Tuhan memotivasi kita untuk berlaku lebih baik.”

Komentar-komentarnya disambut baik oleh para Katolik yang liberal, namun kemungkinan akan dilihat penuh keprihatinan oleh kelompok konservatif yang sudah memperlihatkan kekhawatiran atas kegagalan Paus dalam menanggapi secara publik isu-isu yang disoroti oleh pendahulunya, Paus Benediktus.

Paus Fransiskus I, paus non-Eropa pertama dalam 1.300 tahun, yang pertama dari Amerika Latin dan paus Jesuit pertama, tidak memperlihatkan bahwa ia akan mengubah ajaran-ajaran moral itu segera.

Namun dalam wawancara sepanjang 1.200 kata dengan Civilta Cattolica, ia mengatakan Gereja harus mencari keseimbangan baru antara menegakkan aturan dan memperlihatkan pengampunan.

“Jika tidak, bahkan struktur moral Gereja akan jatuh seperti barisan kartu,” ujarnya.

Dalam wawancara dengan direktur majalah tersebut, Pendeta Jesuit Antonio Spadaro, ia juga mengatakan ingin melihat peran lebih besar dari perempuan dalam Gereja yang berumat 1,2 miliar orang, namun mengatakan hal itu tidak termasuk perubahan dalam larangan saat ini mengenai pendeta perempuan.

Luka Sosial

Berbeda jauh dari pendahulunya, yang mengatakan bahwa homoseksualitas merupakan gangguan intrinsik, Paus mengatakan bahwa ketika orang-orang homoseksual mengatakan padanya bahwa mereka selalu dihujat Gereja dan merasa “terluka secara sosial,” ia mengatakan pada mereka bahwa “Gereja tidak ingin melakukan hal ini.”

Dalam wawancara yang dirilis Kamis (19/9), ia menambahkan: “Agama memiliki hak untuk mengekspresikan pendapatnya dalam melayani umat, namun Tuhan dalam penciptaan-Nya telah membebaskan kita. Mustahil untuk mencampuri kehidupan seseorang secara spiritual.”

Gereja, ujarnya, harus melihat dirinya sebagai “sebuah rumah sakit setelah pertempuran” dan mencoba mengobati luka-luka masyarakat yang lebih besar dan tidak “terobsesi dengan transmisi yang banyak terputus-putus dari doktrin-doktrin yang diberlakukan secara keras.”

Paus Fransiskus menyinggung kritikan terhadapnya dalam lembaga Katolik yang konservatif.

“Kita tidak dapat berkeras hanya terhadap isu-isu yang berhubungan dengan aborsi, pernikahan gay dan penggunaan metode-metode kontrasepsi. Ini tidak mungkin. Mungkin saya tidak terlalu banyak berbicara tentang hal-hal ini, dan saya ditegur karenanya,” ujarnya.

Mengenai peran perempuan dalam Gereja, Paus mengatakan:

“Kita harus bekerja lebih keras untuk mengembangkan teologi yang besar mengenai perempuan. Hanya dengan mengambil langkah ini kita dapat merefleksikan fungsi mereka dalam Gereja dengan lebih baik. Jenius feminin dibutuhkan kapan saja kita membuat keputusan yang penting,” ujarnya. (Reuters/Philip Pullella)
XS
SM
MD
LG