Tautan-tautan Akses

Paus Fransiskus, Presiden Obama Bicara tentang Perubahan Iklim


Presiden AS Barack Obama berjabat tangan dengan Paus Fransiskus usai pidato penyambutan di Gedung Putih, Rabu (23/9).

Presiden AS Barack Obama berjabat tangan dengan Paus Fransiskus usai pidato penyambutan di Gedung Putih, Rabu (23/9).

Dalam pidato di Gedung Putih, Paus Fransiskus hari Rabu (23/9) mengimbau Amerika mengambil tindakan segera untuk mengatasi perubahan iklim.

Paus Fransiskus hari Rabu (23/9) mengimbau Amerika untuk mengambil tindakan segera dan membantu memperlambat laju perubahan iklim karena dunia kini berada pada “saat kritis dalam sejarah”.

Presiden Barack Obama menyambut hangat pemimpin Gereja Katholik Roma itu di Gedung Putih dalam suasana musim gugur yang indah di Washington DC, dan ia setuju bahwa warga Amerika dan warga dunia memiliki “kewajiban suci untuk melindungi planet ini”.

Presiden Obama dan Paus Fransiskus saling menyampaikan sambutan dalam upacara penyambutan resmi merayakan kunjungan pertama Paus ke Amerika. Mereka saling menyampaikan pujian dalam pidato yang kerap terputus karena tepuk tangan sekitar 15 ribu tamu undangan di sayap kanan Gedung Putih.

Kerumunan massa berupaya melihat Paus secara sekilas dari kejauhan.

Sekitar 15 ribu tamu undangan ikut menghadiri acara penyambutan Paus Fransiskus di halaman Gedung Putih hari Rabu (23/9).

Sekitar 15 ribu tamu undangan ikut menghadiri acara penyambutan Paus Fransiskus di halaman Gedung Putih hari Rabu (23/9).

Presiden Obama memuji pemimpin berusia 78 tahun itu karena “kerendah-hatian, kesederhanaan, kelembutan kata-kata dan kemurahan hatinya”.

“Anda mengingatkan kami bahwa di mata Tuhan, langkah kita sebagai indidivu dan sebagai anggota masyarakat tidak ditentukan oleh kekayaan atau kekuasaan atau kemahsuran tetapi bagaimana kita memenuhi panggilan kitab suci untuk menolong warga miskin dan terpinggirkan. Untuk mengedepankan keadilan dan menentang ketidakadilan”, ujar Presiden Obama.

Pidato Presiden Obama juga merujuk pada para pengungsi yang melarikan diri dari tanah air mereka yang dikoyak perang, kebebasan beragama dan “kewajiban suci untuk melindungi planet bumi”. Obama juga menyampaikan terima kasih kepada paus atas upayanya mempererat hubungan Amerika dan Kuba setelah rasa saling curiga selama puluhan tahun.

Dalam pembukaan pidatonya, Paus menyorot latar belakangnya – yang dilahirkan di Argentina oleh orang tua yang bermigrasi dari Itali ke Amerika Selatan. “Sebagai anak keluarga imigran, saya senang menjadi tamu di negara yang sebagian besar dibangun oleh keluarga imigran seperti ini”, ujarnya. “Saya harap seluruh laki-laki dan perempuan yang baik di bangsa yang besar ini akan mendukung upaya masyarakat internasional untuk melindungi kerentanan dunia”.

Paus Fransiskus mengajak warga Amerika untuk mengambil tindakan segera guna mencegah masalah lingkungan hidup dan mengatasi kemiskinan.

“Terkait pelayanan umum atas 'rumah kita', kita hidup di saat kritis dalam sejarah”, ujar paus – menyuarakan kembali surat yang disampaikannya kepada dunia pada Juni lalu. Upaya mengatasi perubahan iklim “tidak bisa diserahkan pada generasi mendatang saja”, tambahnya.

Kedua pemimpin kemudian masuk ke dalam Gedung Putih untuk melangsungkan pembicaraan di ruang Oval. Bersama ibu negara Michelle Obama, mereka melambaikan tangan ke arah kerumunan massa dari balkoni kediaman presiden.

Setelah pertemuannya dengan Presiden Obama, Paus Fransiskus memimpin kebaktian dengan 450 uskup Amerika di Katedral St. Matthew the Apostle, di mana ia bicara tentang skandal penganiayaan seksual oleh para pastur yang pernah mengguncang Amerika tahun 2002.

Paus memuji para uskup atas “komitmen mulia untuk menyembuhkan para korban” dan mengambil tindakan “tanpa takut dikritik”.

Di bawah tekanan publik yang sangat besar, Konferensi Keuskupan Katholik di Amerika berjanji untuk melawan pastur siapapun yang bersalah dari pekerjaan mereka di gereja dan memberi perlindungan pada anak-anak.

Namun – skandal yang terjadi itu – dan para korban mengatakap uskup-uskup tersebut belum benar-benar diadili karena menampung para pelaku. Tahun ini tiga uskup mengundurkan diri karena gagal melindungi anak-anak.

Banyak uskup di Amerika – yang hampir semuanya ditunjuk oleh Paus John Paul II dan Paus Benedict XVI – melawan apa yang disebut Paus Fransiskus sebagai “arahan berlandaskan keadilan yang baru dari gereja”.

Rabu sore Paus akan menggelar misa kanonisasi atas Junipero Serra – seorang misionaris Spanyol pada abad ke-18 yang menyiarkan ajaran gereja di kawasan yang sekarang dikenal sebagai California, di gereja katholik – Basilica of the Immaculate Conception.

Bagi sebagian suku asli Amerika, misa pemberian gelar orang suci kepada Serra ini merupakan hal yang pahit karena Serra dinilai ikut melakukan penganiayaan dan pemusnahan suku-suku asli dari perbudakan dan penyakit.

Beberapa kelompok konservatif mengecam pandangan ekonomi Paus Fransiskus – dan menyebutnya sebagai Marxist – tetapi paus membela diri atas penggambaran yang menurutnya tidak akurat terhadap dirinya yang disebut “left-leaning” atau “pro-kiri”. Dalam perjalanannya dari Kuba menuju Amerika, paus mengatakan kepada wartawan bahwa “ia yakin tidak pernah mengatakan di luar doktrin sosial gereja. Saya mengikuti gereja... doktrin saya tentang imperialisme ekonomi adalah doktrin sosial gereja”.

Paus Fransiskus juga berbicara lantang menentang penganiayaan kelompok agama minoritas – khususnya di Timur Tengah, di mana militan ISIS menarget warga Kristen dan Yazidi dengan melakukan serangan-serangan berdarah. Komitmen kebebasan beragama dan hak-hak kelompok agama minoritas merupakan nilai-nilai lain yang juga dianut Presiden Obama, demikian menurut penasehat presiden. [em/ds]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG