Tautan-tautan Akses

Pasukan Kurdi Suriah Mulai Serangan Militer Pembebasan Raqqa


Pasukan Demokratis Suriah (SDF) berpatroli di Raqqa, Suriah, 27 Mei 2016. U.S. (Foto: dok.)

Pasukan Demokratis Suriah (SDF) berpatroli di Raqqa, Suriah, 27 Mei 2016. U.S. (Foto: dok.)

Pasukan Kurdi Suriah yang didukung Amerika mengatakan sudah memulai serangan militer untuk membebaskan Raqqa, ibukota ISIS dan mendesak warga sipil untuk menghindari “pertemuan-pertemuan” di kota Suriah itu dan memperingatkan Turki agar tidak ikut campur dalam operasi itu.

Pengumuman oleh pasukan koalisi Kurdi dan Arab yang dikenal sebagai Pasukan Demokratis Suriah (SDF) disampaikan pada konferensi pers di Fin Issa, Raqqa utara dan dihadiri oleh para komandan senior dan perwakilan kelompok itu. Tapi pengumuman itu tidak disertai rincian secara spesifik mengenai rencana mereka untuk menyingkirkan ISIS dari kota itu yang menjadi tempat tinggal hampir 200 ribu orang sebagian besar warga Arab Suni dan sekitar 5000 militan.

Pasukan ISIS sudah diserang oleh pasukan Irak yang didukung Amerika di pinggiran timur kota Mosul yang direbut kelompok militan itu tahun 2014 ketika merebut wilayah di Irak dan Suriah untuk kekhalifahannya. Pasukan Irak yang memulai operasi mereka 17 Oktober lalu berusaha masuk lebih dalam lagi ke kota itu yang menjadi kubu pertahanan terakhir kelompok militan itu di Irak.

Kami menghimbau kepada rakyat kita yang tabah di Raqqa dan daerah-daerah sekitarnya untuk menjauhi pertemuan-pertemuan yang akan menjadi sasaran pasukan pembebasan dan koalisi dan menuju daerah-daerah yang akan dibebaskan”, kata Cihan Ehmed seorang pejuang SDF yang membacakan pernyataan itu.

Cihan Ehmed mengatakan 30 ribu anggotanya akan ikut dalam operasi yang disebut “Kemarahan Efrat” dan komando gabungan telah dibentuk untuk mengoordinasikan berbagai faksi di segala penjuru. SDF didominasi oleh pasukan Kurdi Suriah yang dikenal sebagai Satuan-satuan Pelindung Rakyat atau YPG. Amerika mengangap kelompok itu sebagai pasukan yang paling efektif untuk melawan ISIS, tapi Turki menganggapnya sebagai organisasi teroris dan mengklaim kelompok itu terkait dengan kelompok Turki yang dilarang. Pejabat Turki termasuk Presiden Recep Tayip Erdogan mengatakan mereka tidak akan menerima peran Kurdi dalam pembebasan Raqqa.

Seorang pejabat SDF Rezan Hiddo mengatakan Turki selama ini menjadi “penghambat” serangan Raqqa. Ia mengatakan SDF telah menginformasikan kepada koalisi internasional bahwa Turki bisa merusak serangan jika Turki memutuskan untuk menyerang daerah-daerah yang dikuasai Kurdi di Suriah utara. Ini akan memaksa pasukan Kurdi menghentikan serangan mereka ke Raqqa untuk melindungi daerah-daerah mereka, kata Hiddo.

“Kami tidak bisa memadamkan api di wilayah tetangga kami jika rumah kami terbakar” tambah Hiddo.

Komandan pasukan koalisi anti ISIS, Letnan Jenderal Stephen Townsend minggu lalu mengatakan intelijen Amerika telah mendeteksi tanda-tanda bahwa serangan ISIS terhadap sasaran-sasaran Barat direncanakan dari Raqqa. [my/jm]

XS
SM
MD
LG