Tautan-tautan Akses

Pasukan Irak Memulai Operasi Berbahaya di Mosul


Pasukan khusus Irak bersiap menggeledah sebuah kompleks di Gogjali, sebuah distrik di sebelah timur kota Mosul, Irak, 2 November 2016. (AP Photo/Marko Drobnjakovic)

Pasukan khusus Irak bersiap menggeledah sebuah kompleks di Gogjali, sebuah distrik di sebelah timur kota Mosul, Irak, 2 November 2016. (AP Photo/Marko Drobnjakovic)

Operasi memasuki kota Mosul yang direbut ISIS lebih dari dua tahun silam itu memicu eksodus ratusan keluarga keluar Mosul. Sebagian membawa bendera putih, yang lainnya menunjukkan tanda kemenangan kepada pasukan elit pemerintah Irak.

Pasukan Irak hari Kamis (3/11) bergerak dengan hati-hati di sebuah kawasan permukiman di wilayah pinggiran kota Mosul. Mereka bergerak hati-hati dari rumah ke rumah untuk memastikan keselamatan warga sipil. Mereka juga harus mewaspadai ranjau serta penyergapan dan serangan penembak jitu dari kelompok militan ISIS, yang didesak pemimpin mereka agar bertahan dan mencegah direbutnya kota besar terakhir yang mereka kuasai di Irak.

Operasi memasuki kota Mosul yang direbut ISIS lebih dari dua tahun silam itu memicu eksodus ratusan keluarga. Mereka mulai mengalir keluar Mosul. Sebagian membawa bendera putih, yang lainnya menunjukkan tanda kemenangan kepada pasukan elit pemerintah Irak dari Divisi Emas yang dilatih Amerika. Divisi ini memimpin berbagai kemenangan lainnya tahun ini di Irak, termasuk di Fallujah, dalam melawan kelompok jihadis itu.

Sementara warga setempat di distrik Gogjali di bagian timur menyambut pembebasan kawasan itu dari ISIS, kekhawatiran mengenai kemunculan kembali siklus serangan balasan dan pembalasan dendam meningkat karena daerah-daerah permukiman yang lebih pro-ISIS di bagian barat kota itu jatuh ke pasukan pemerintah.

Serangan tersebut mungkin saja dipicu oleh warga setempat yang menderita akibat kekuasaan ISIS selama dua tahun di Mosul dan oleh milisi Sunni, yang sebelumnya pernah dituduh melancarkan serangan balasan terhadap lelaki dewasa dan anak-anak di desa-desa sekitarnya yang diduga memiliki hubungan dengan ISIS.

Kelompok HAM Amnesty Internasional Rabu menyatakan telah menerima laporan mengenai tersangka simpatisan ISIS yang dipermalukan, disiksa dan dipukuli di depan umum sewaktu anggota milisi Mobilisasi Suku Sabawi memasuki desa-desa di sebelah selatan Mosul. Lynn Maalouf dari Amnesty mengatakan ada budaya impunitas yang berbahaya di sana di mana tersangka pelaku serangan merasa bebas melakukan kejahatan tanpa dihukum. [uh/lt]

XS
SM
MD
LG