Tautan-tautan Akses

Warga Poso Berharap Aksi Terorisme, Kekerasan Berakhir

  • Yoanes Litha

Personel TNI memeriksa kendaraan yang keluar masuk desa Pantangolemba, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (foto: VOA/Y. Litha)

Personel TNI memeriksa kendaraan yang keluar masuk desa Pantangolemba, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (foto: VOA/Y. Litha)

Warga di Poso, Sulawesi Tengah, berharap pasca kematian Santoso, situasi keamanan yang lebih baik akan tercipta.

Warga Poso, Sulawesi Tengah, berharap keberhasilan Operasi Tinombala 2016 dalam membunuh Santoso, pemimpin utama dari kelompok teroris di wilayah itu, akan menjadi awal baru bagi situasi yang lebih baik.

Warga mengaku sudah jenuh dengan aksi-aksi kekerasan dan terorisme yang dikaitkan dengan kelompok itu.

Kepada VOA sejumlah warga mengatakan sudah lelah dan bosan dengan berbagai aksi kekerasan dan terorisme yang dikaitkan dengan keberadaan kelompok itu.

Samperno Dwi Antoro (45) warga desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan.

“Ya lebih amanlah, artinya bagaimana kedepan solusinya supaya jangan ada Santoso yang baru lagi. Kami masyarakat sudah bosan,” ujar Samperno Dwi Antoro.

Hal senada juga dikemukakan oleh Markesa (35) warga desa Pantangolemba, pria yang sehari harinya bekerja sebagai petani ini berharap dalam waktu dekat petani seperti dirinya sudah dapat kembali beraktifitas secara bebas di kebun, serta dapat pergi kemana saja. Selama berlangsungnya operasi Tinombala 2016, petani tidak diperbolehkan bermalam di kebun-kebun mereka yang jauh dari pemukiman. Aparat keamanan khawatir, logistik yang dibawa petani, seperti makanan, akan dimanfaatkan oleh kelompok Santoso.

"Berharap sih supaya sudah aman, tidak ada kemauan lain cuma aman supaya kita bebas keluar masuk. Cuma itu saja," ujar Markesa.

Mohammad Rafiq Syamsuddin seorang pelaku usaha di kota Poso mengatakan sudah saatnya Poso dibangun dan diperbaiki kembali untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Menurutnya, kesejahteraan warga Poso tertinggal dibandingkan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Tengah.

“Sederhananya begini, kita berharap kisah tentang teror di Poso itu berakhir. Kisah-kisah Poso yang mengerikan itu berakhir, kita ingin Poso ayo bangkit, sudah saatnya kita bangkit dan Poso memang harus dibangun, harus diperbaiki sehingga tidak kalah dengan daerah-daerah lain. Sudahlah selesaikan semua apa yang pernah terjadi kemarin dan ayo kita maju kedepan. Saya pikir ini harapan semua pihak di Poso dan mudah-mudahan ini menjadi titik awal langkah untuk Poso yang lebih baik,” ujar Mohammad Rafiq Syamsuddin.

Hingga Kamis 21 Juli 2016, situasi di Poso, Sulawesi Tengah secara umum tetap dalam keadaan yang aman dan kondusif. Perburuan terhadap sisa dari kelompok itu masih terus dilakukan dalam Operasi Tinombala 2016.

Informasi yang diperoleh dari Satuan Tugas Operasi Tinombala mengatakan, sejumlah besar pasukan TNI Polri yang dibagi dalam 63 tim, tetap berada di dalam hutan untuk mencari sisa kelompok itu yang masih berjumlah 19 orang. Pengejaran difokuskan di Sektor 2 dan 3 dalam operasi itu, yaitu hutan pegunungan desa Tambarana, Kilo, Tamanjeka dan Tangkura. Selain itu pasukan juga ditempatkan untuk menutup jalur-jalur pelarian kelompok itu.

Perburuan kelompok Santoso di Poso setidaknya telah dilakukan aparat keamanan dalam 10 operasi sejak tahun 2013 silam.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG