Tautan-tautan Akses

Pasca Rusuh Hyundai, Warga Aceh Pilih Berdamai Demi Pembangunan

  • Budi Nahaba

Salah satu unit bendungan PLTA Peusangan yang pengerjaannya ditangani Hyundai Korea. (VOA/Budi Nahaba)

Salah satu unit bendungan PLTA Peusangan yang pengerjaannya ditangani Hyundai Korea. (VOA/Budi Nahaba)

Bupati Aceh Tengah Nasaruddin bersama Muspida plus pekan ini memimpin langsung pertemuan pihak Hyundai dengan masyarakat terkait bentrok yang terjadi baru-baru ini terjadi di tengah provinsi Aceh itu.

Pertemuan menghasilkan tujuh kesepakatan, di antaranya permintaan maaf terbuka pihak Hyundai dan pemecatan karyawan Hyundai yang dinilai telah melecehkan umat muslim saat sedang menjalankan ibadah keagamaan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW.

Juru bicara Pemda Aceh Tengah Mustafa Kamal mengatakan Minggu (18/1), pasca bentrok kondisi sekitar lokasi proyek Pembangkit Listrik tenaga Air (PLTA) yang tengah ditangani oleh pihak Hyundai kembali normal dan kondusif.

Mustafa mengatakan, Bupati Aceh Tengah Nasaruddin dan Muspida plus menjadi mediator menengahi pertikaian pihak Hyundai dengan warga. Dicapai sejumlah kesepakatan dari pertemuan tersebut, beberapa diantaranya permohonan maaf pihak Hyundai dan penyesalan yang mendalam atas peristiwa hari selasa (13/1) yang melibatkan karyawan Hyundai sehingga menimbulkan rasa kurang nyaman bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah keagamaan.​

Media jaringan lokal Gayo hari Selasa (13/1) menurunkan laporannya bahwa ratusan warga Silihnara Aceh Tengah mendatangi dan merusak fasilitas kantor milik PT Hyundai E&C CO LTD, salah satu korporasi terkemuka dunia yang sedang merampungkan pengerjaan instalasi raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan Aceh.

Saksi mata yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengatakan, penyerangan dipicu oleh adanya permintaan perwakilan karyawan Hyundai kepada pemuka kampung setempat agar tidak menggunakan pengeras suara saat melaksanakan perayaan Maulud Nabi Muhammad di kawasan yang dekat dengan perkantoran Hyundai tersebut.

Mustafa juru bicara pemerintah Aceh Tengah mengatakan, kesepakatan dan komitmen “Islah” Hyundai dengan warga ditandatangani para pihak Jumat (16/1), yang dihadiri Project manager Hyundai, Mr. Kim Do Gyoon, unsur pimpinan masyarakat reje dan mukim serta Pimpinan Daerah Muspida, yang terdiri dari pimpinan Polri dan TNI, Kejaksaaan anggota parlemen kabupaten (DPRK) dan mahasiswa perguruan tinggi, sebagai saksi.

Salah seorang unsur pimpinan parlemen lokal (DPRK) Aceh Tengah Sirajuddin AB meminta pihak Hyundai, baik pimpinan maupun karyawannya lebih bersikap sebagai pelaku korporasi profesional dengan tetap menghormati kearifan lokal warga setempat, terutama mendukung masyarakat menjalankan ibadah keagamaan, adat istiadat dan kegiatan sosial lainnya.

Akademisi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Lena Farsia Djamil mengatakan, peran diplomat yang bertugas pada kantor perwakilan negara asing di Indonesia perlu lebih dioptimalkan dengan memberikan pembekalan terkait interaksi sosial budaya dan keagamaan kepada pekerja mereka yang akan bertugas di daerah-daerah di Indonesia, termasuk di Aceh, agar konflik pekerja asing atau korporasi asing dengan warga dapat dihindari.

“Pihak asing harus menghormati kearifan lokal dan hukum nasional suatu negara. Terutama sebelum mereka berangkat ke Indonesia, mereka harus sudah mendapat pengethuan terkait kondisi sosial setempat, khusus Aceh mereka harus memiliki pengetahuan mengenai penanggalan dilaksanakannya perayaan Maulud Nabi, misalnya,” ujar Lena.

Koordinator Jaringan Antikorupsi Gayo (JANGKO) Idrus Saputra mengusulkan tanggung jawab sosial oleh perusahaan (CSR) harus benar-benar dijalankan, sehingga tidak terjadi kerawanan dan timbulnya konflik antar pekerja di sebuah korporasi dengan warga.

“Mendirikan media center salah satu solusi menurut saya. Dengan media center, ada keterbukaan informasi, warga dan korporasi bisa saling berinteraksi dan menghindari konflik,” kata Idrus.

Akibat bentrok dan kerusuhan Selasa antar warga dengan Hyundai di Gayo, tidak ada korban jiwa. Polisi bertindak cepat mengamankan situasi, para pekerja yang berasal dari Korea tersebut diamankan di Polres setempat sehingga terhindar dari amuk warga.

Juru Bicara Polda Aceh Gustav Leo mengatakan, pengamanan dan perlindungan terhadap warga setempat dan pekerja asing jadi prioritas Polri.

“Persoalan ditangani Polres Aceh Tengah, Kamtibmas kondusif. Polisi tidak hanya melakukan tindakan penegakan hukum semata, namun melakukan upaya lain dengan mengedepankan komunikasi, agar partisipasi warga terhadap perusahaan lebih bertanggungjawab," tambahnya.

Krisis energi berkepanjangan dan lambannya perkembangan sektor industri yang dialami Aceh telah mendorong masuknya investasi senilai lebih Rp 3 triliun untuk pembangunan sektor energi di wilayah Gayo Aceh Tengah. Perusahaan listrik nasional PLN, bermitra dengan korporasi global, dari Jepang dan Korea dijadwalkan akan merampungkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air PLTA terbesar pertama di Aceh. Dengan kapasitas mencapai 323 Giga watt. Proyek mulai dikerjakan tahun 2009 dan ditargetkan selesai 2017, diharapkan akan memperkuat pasokan listrik untuk Sumatera, khususnya Aceh.

XS
SM
MD
LG