Tautan-tautan Akses

Pasca Referendum, Pergolakan Politik di Inggris Makin Tajam


Seorang demonstran yang memakai bendera UE ambil bagian dalam protes yang menolak keluarnya Inggris dari Uni Eropa di Alun-alun Parlemen, London (25/6). (AP/Tim Ireland)

Seorang demonstran yang memakai bendera UE ambil bagian dalam protes yang menolak keluarnya Inggris dari Uni Eropa di Alun-alun Parlemen, London (25/6). (AP/Tim Ireland)

Para tokoh yang berhasil mengkampanyekan supaya Inggris keluar dari Uni Eropa justru belum memberi isyarat tentang rencana mereka ke depan.

Keputusan Inggris yang mengejutkan untuk keluar dari Uni Eropa menimbulkan pergolakan politik yang semakin tajam hari Minggu (26/6) ketika pemimpin Skotlandia mengancam akan memblokir langkah itu.

Kegelisahan mulai menyebar di seluruh Inggris ketika pemimpin-pemimpin Eropa meningkatkan tekanan terhadap negara itu supaya segera memulai langkah keluar dari blok yang beranggotakan 28 negara itu sesegera mungkin, dibanding menunggu beberapa bulan lagi sebagaimana usul Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Dengan dibukanya pasar FTSE London Senin ini – yang hari Jumat lalu sempat terjun bebas 3,15 persen - para tokoh yang berhasil mengkampanyekan supaya Inggris keluar dari Uni Eropa justru belum memberi isyarat tentang rencana mereka ke depan.

Skotlandia sebaliknya bersuara lantang. Menteri Pertama Nicola Sturgeon mengatakan sedang “mempertimbangkan” untuk menyarankan parlemen Skotlandia supaya menggunakan kekuasaannya guna mencegah Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa.

Kantor berita Associated Press mengutip Sturgeon sebagai mengatakan para anggota parlemen Skotlandia mungkin bisa mengupayakan langkah untuk menahan “persetujuan legislatif” bagi keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Dalam referendum yang dilangsungkan 23 Juni lalu, sebagian besar warga Inggris memilih keluar dari keanggotaan Uni Eropa. Tetapi 62 persen warga di Skotlandia memilih tetap menjadi anggota blok 28 negara itu.

Hasil referendum Inggris itu juga menimbulkan keprihatinan para pemimpin dunia. Di Roma, Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry menyerukan Inggris dan Uni Eropa untuk menangani masalah ini secara bertanggung jawab demi kemaslahatan warga dan pasar dunia.

Kerry hari Senin akan menjadi pejabat senior Amerika pertama yang berkunjung ke London dan Brussels pasca referendum itu, dan mengatakan ia akan menyampaikan pesan bahwa Amerika mendukung kedua ibukota itu.

Sementara Paus Fransiskus menyerukan Uni Eropa untuk menghasilkan cara-cara yang kreatif untuk tetap bersama Inggris, dan mengatakan ‘’hasil referendum itu jelas menunjukkan ada yang tidak jalan dalam serikat ini." [em]

XS
SM
MD
LG