Tautan-tautan Akses

Pasca Kudeta, Turki Terus Lakukan Penumpasan

  • Dorian Jones

Polisi Turki terus melakukan berbagai penangkapan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat kudeta (foto: dok).

Polisi Turki terus melakukan berbagai penangkapan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat kudeta (foto: dok).

Polisi menggerebek gedung pengadilan utama di Istanbul, sementara penumpasan berlanjut pasca upaya kudeta yang gagal bulan lalu.

Tindakan sapu bersih itu menegangkan hubungan Turki dengan sekutu-sekutu Barat, yang menurut pejabat-pejabat Turki tampaknya lebih prihatin terhadap penumpasan tersebut daripada kudeta gagal yang menewaskan 240 orang.

Polisi menutup semua pintu masuk ke tiga gedung pengadilan utama di Istanbul, sementara pasukan keamanan berusaha menangkap lebih dari 170 pejabat pengadilan.

Kantor-kantor gedung pengadilan digeledah, dan puluhan orang ditahan. Orang-orang yang ditahan dituduh sebagai pengikut ulama Turki yang bermukim di Amerika, Fethullah Gulen. Kejaksaan Turki mengklaim Gulen mendalangi upaya kudeta bulan lalu. Gulen membantah terlibat dalam kudeta itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hari Minggu bertekad memberantas habis semua orang yang terkait ulama itu. Menurut Erdogan, adalah kewajiban kita menyeret pengkhianat ke pengadilan dan membasmi FETO.

FETO adalah singkatan "Organisasi Teroris Fethullah."

Pekan lalu, pemerintah mengeluarkan surat perintah penangkapan atas 648 hakim dan jaksa. Ribuan petugas kejaksaaan dan pengadilan lainnya telah diskors dari jabatan mereka.

Hari Minggu (14/8), seorang jaksa kepala yang buron tertangkap ketika berusaha memasuki Suriah.

Ayse Sozen Usluer, kepala hubungan internasional Presiden Erdogan, mengatakan pemerintah sedang melawan organisasi, yang selama puluhan tahun menyusup ke dalam pemerintahan Turki.

"FETO bahkan sudah ada sejak tahun 1980-an. Organisasi itu diketahui sudah ada. Aksinya dalam lembaga-lembaga negara sudah diketahui. Ini adalah organisasi yang aktif di berbagai lembaga negara," ungkapnya.

Lebih 60 ribu pegawai negeri sipil telah diberhentikan dari jabatan dan hampir 18 ribu orang ditahan sejak kudeta yang gagal itu.

Bulan lalu, Presiden Erdogan menyatakan keadaan darurat, sehingga memungkinkannya memerintah dengan dekrit.

Sekutu Barat Turki, yang menyerukan tindakan yang tidak berlebihan pasca kudeta, semakin menyuarakan kekhawatiran.

Tetapi menurut penasihat presiden, Usluer, kecaman itu tidak menyadari betapa serius ancaman yang dihadapi demokrasi Turki.

Dalam pidato hari Minggu, Erdogan menyatakan Turki sangat jauh berubah sejak upaya kudeta itu dan cara dia memerintah akan berubah. Menurut pengamat, membangun konsensus politik adalah kesempatan terbaik Turki untuk keluar dari kekacauan. Tetapi bagaimana penumpasan berkelanjutan itu berkembang, akan menentukan apakah konsensus tersebut dapat dicapai. [ka/ii]

XS
SM
MD
LG